TopCareer.id – Media sosial tengah dihebohkan dengan dugaan pemalsuan riset oleh sekelompok Warga Negara Indonesia di sebuah konferensi ilmiah di Kopenhagen, Denmark.
Dugaan skandal pemalsuan riset ini diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat, peneliti clinical medicine di Universitas Oxford asal Indonesia.
Lewat akun Instagram-nya, Dwi mengungkapkan adanya kejanggalan terhadap sejumlah peneliti asal Indonesia di acara konferensi ilmiah International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026.
Konferensi tersebut digelar untuk ahli pneumonia di seluruh dunia, yang pada tahun ini diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark.
Dwi mengatakan, kejanggalan terlihat saat salah seorang pelaku ketahuan melakukan pemalsuan identitas dengan modus berganti-ganti nama saat presentasi, serta mengganti jilbab dan nametag.
Selain itu, ia juga menyebut bahwa risetnya palsu. Terduga pelaku yang diketahui bernama Prihantini itu sempat dikonfrontasi namun tak bisa menjawab.
Baca Juga: Studi UGM: AI Makin Banyak Dipakai Buat Kerja, Tapi Masih Ada Kelemahan
Dwi menyebut, seluruh abstraksi mereka dibuat dengan AI, oleh ketua mereka yang bernama Rifaldy Fajar.
Kejanggalan lain adalah lokasi riset yang dinilai tidak masuk akal karena tidak ada kolaborator lokal dan tanpa keterangan persetujuan etik. Ditemukan juga bahwa organisasi afiliasi mereka palsu.
Menurut Dwi, dengan modus ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa keluar negeri secara gratis.
“Pemalsuan ini akhirnya terungkap. Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan,” tulis Dwi.
Kabar ini pun banyak warganet yang mencari sosok-sosok yang disebutkan dalam kabar tersebut, salah satunya Prihatini.
Melalui keterangan di laman resminya, Institut Teknologi Bandung (ITB) buka suara. ITB mengakui bahwa Prihatini adalah alumni kampus tersebut.
Baca Juga: Satpol PP DKI Minta Maaf Usai Viral Penertiban Pedagang Es Krim di CFD
“Saudari Prihatini merupakan alumni Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020 dan telah lulus pada tahun 2022,” tulis mereka.
Namun, Dekan FMIPA ITB Aep Patah menegaskan, materi yang dipresentasikan dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB.
Tesis Prihantini saat menempuh studi Magister di ITB berjudul “Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring.”
“ITB menyatakan sikap bahwa tindakan Saudari Prihatini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu,” tulis mereka.
Pihak kampus pun menyatakan apabila terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, mereka akan sangat menghormati upaya itu.
“ITB tidak mentoleransi plagiarisme, fabrikasi data, manipulasi hasil, maupun bentuk pelanggaran etika ilmiah lainnya dalam kegiatan akademik dan penelitian,” pungkas perguruan tinggi itu.






