Lifestyle

Kumpul Keluarga Lebaran Malah Bikin Stres, Ini Tips dari Psikolog

Ilustrasi stres di tengah kumpul keluarga saat Lebaran. (Gambar dibuat dengan AI Gemini)

TopCareer.id – Tidak semua orang tahan dengan suasana kumpul dengan keluarga saat merayakan Idulfitri atau lebaran. Beberapa bisa merasa tertekan, minder, atau lelah secara fisik maupun emosional.

Apalagi, saat kumpul keluarga, orang lain kerap bertanya soal hal-hal yang pribadi seperti “kapan menikah?”, “sudah punya anak?”, “kerja di mana?”, hingga “sudah punya rumah?”

Di masa kini, pertanyaan-pertanyaan pribadi yang dilontarkan saat kumpul keluarga tersebut bisa membuat tidak nyaman.

Perubahan rutinitas selama lebaran yang cukup drastis, ditambah tekanan sosial serta ekspektasi budaya, juga dapat memicu stres.

Aktivitas menerima tamu tanpa jeda atau menghadiri banyak undangan membuat sebagian orang merasa kelelahan secara mental.

Nur Islamiah, psikolog yang juga dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB University mengatakan, ada cara yang dapat dilakukan untuk mengelola stres saat merayakan lebaran.

Baca Juga: Masyarakat Makin Berminat Ikut Mudik Gratis di 2026

Salah satu langkah penting yaitu mengatur ekspektasi diri, dengan menetapkan batas psikologis atau psychological boundaries.

“Kita tidak punya kewajiban dan memang tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Sering kali kita merasa harus selalu tersenyum, melayani tamu, dan menjaga suasana,” kata dosen yang dipanggil Mia ini.

Di tengah ramainya suasana, penting bagi seseorang untuk mengenali batas dirinya, seperti dengan memilih percakapan yang ingin diikuti, atau mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri tanpa merasa bersalah.

“Menetapkan batas waktu dan energi untuk bersosialisasi bukan berarti tidak menghargai orang lain, melainkan bentuk upaya menjaga kesehatan mental,” katanya, mengutip laman resmi IPB University.

Ruang bagi diri sendiri diperlukan untuk menjaga kapasitas emosional, agar Anda tidak mudah merasa lelah atau tersinggung.

“Memberi ruang bukan berarti menjauh, tetapi cara untuk memelihara kapasitas emosional. Tanpa ruang itu, kita lebih mudah merasa lelah, tersinggung, bahkan merasa kosong meski dikelilingi banyak orang.”

Mia juga mengatakan, keseimbangan antara kebersamaan dengan keluarga dan waktu untuk diri sendiri juga penting.

Cara termudah misalnya menyempatkan waktu sejenak untuk diri sendiri, misalnya bangun lebih pagi untuk menikmati ketenangan atau beristirahat beberapa menit di kamar.

Saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan soal pencapaian hidup yang bersifat pribadi dan rentan jadi beban mental, Mia menyarankan Anda untuk menjawab dengan tetap sopan, namun tetap menjaga batas pribadi.

Anda bisa menjawab dengan pernyataan seperti: “Masih dalam proses, mohon doanya, ya.”

“Jawaban seperti ini cukup untuk menjaga kenyamanan tanpa harus menjelaskan terlalu banyak,” katanya.

Baca Juga: Libur Lebaran, Ortu Diajak Kurangi Pemakaian Gadget pada Anak

Mia juga mengingatkan agar Anda tidak mengabaikan perasaan lelah atau tertekan. Hal ini wajar meski berada dalam suasana yang bahagia.

“Carilah cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti berjalan sebentar, berwudu, atau mengambil waktu untuk beribadah dengan lebih khusyuk,” ia menyarankan.

Bagi yang merayakan Lebaran seorang diri, rasa kesepian mungkin akan lebih terasa, apalagi saat melihat orang lain merayakan bersama keluarga besar. Namun, ia menegaskan perasaan itu adalah hal yang wajar.

Untuk itu, tetaplah menjaga koneksi emosional dengan orang terdekat, meski tak bisa bertemu secara langsung.

“Hubungi orang yang disayangi, lakukan panggilan video meski hanya sebentar. Yang terpenting, jangan memendam semuanya sendirian,” kata Mia.

Mia pun menegaskan, lebaran bukan ajang perlombaan untuk terlihat paling bahagia atau paling sukses.

“Kita tidak harus selalu kuat dan tidak perlu merasa harus sempurna. Memberi ruang untuk diri sendiri justru merupakan bentuk kekuatan emosional yang matang,” pungkasnya.

Leave a Reply