Profesional

Magang Harus Jadi Ruang Belajar, Bukan Cari Pekerja Murah

Ilustrasi magang di kantor. (Gambar dibuat dengan AI Gemini)

TopCareer.id – Magang kini tengah jadi tren di banyak perusahaan. Meski begitu, Jobstreet by SEEK mengingatkan agar jangan sampai program ini menjadi cara untuk mencari pekerja murah.

Sawitri, Head of Country Marketing Indonesia, Jobstreet by SEEK mengatakan, program magang pada dasarnya adalah ruang pembelajaran bagi mahasiswa tingkat akhir untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja profesional, memahami ritme kerja, dan mempersiapkan diri sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja.

“Karena itu, magang tidak seharusnya bergeser dari fungsi utamanya sebagai ruang pembelajaran menjadi sekadar sumber tenaga kerja berbiaya rendah, ataupun diposisikan sebagai mata pencaharian utama, melainkan sebagai jembatan transisi yang membantu talenta muda membangun kesiapan kerja,” ujarnya, mengutip siaran pers, Jumat (12/6/2026)

Laporan Jobstreet by SEEK mencatat bahwa 21 persen perusahaan merekrut tenaga kerja kontrak atau temporer dengan alasan utama untuk menghemat biaya pegawai (saving staff costs).

Namun, praktik penghematan biaya ini, menurut mereka perlu dihindari ketika menyusun program magang, terutama jika menggeser fokus dari pembelajaran menjadi semata-mata efisiensi biaya tenaga kerja.

Jobstreet menyebut bahwa program magang idealnya mengedepankan aspek pembelajaran dan pengembangan kompetensi bagi peserta, bukan menjadikan mereka substitusi tenaga kerja berbiaya rendah.

Baca Juga: 5 Tips buat Pimpinan biar Tim Tetap Solid Walau Beda Generasi

Menurut platform lowongan kerja itu, magang pada dasarnya adalah kesempatan bagi talenta muda, terutama mahasiswa tingkat akhir dan siswa sekolah vokasi tingkat akhir, untuk mendapatkan pengalaman kerja langsung, membangun portofolio, dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Maka dari itu, kompensasi finansial tetap penting, namun bukan satu-satunya tujuan dari program magang yang baik. Perusahaan pun wajib mematuhi kebijakan dan ketentuan pemerintah saat menggelar program magang, termasuk soal beban kerja, jam kerja, durasi program, serta ketentuan gaji atau uang saku yang berlaku.

Dengan desain program yang jelas, proporsi jam kerja yang wajar, dan peran yang selaras dengan capaian pembelajaran, magang dapat menjadi jembatan yang sehat antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Menurut Jobstreet, ini sejalan dengan temuan pendukung di laporan Workplace Happiness Index Indonesia 2025, yang menunjukkan bahwa Gen Z merupakan kelompok dengan tingkat kebahagiaan kerja terendah dan lebih memperhatikan purpose at work serta work-life balance.

Karena itu, bagi banyak talenta muda, program magang yang baik bukan semata soal penghasilan, melainkan tentang pengalaman belajar yang bermakna, ruang untuk berkembang, dan pemahaman yang lebih jelas tentang arah karier.

Meski demikian, kompensasi yang layak tetap penting agar kesempatan magang tetap adil, inklusif, dan sesuai ketentuan yang berlaku.

Walau 47 persen perusahaan mengaku sudah memiliki program apprenticeship atau mentoring sebagai salah satu benefit utama, inisiatif ini tetap perlu diperkuat dengan pemberian kompensasi finansial yang layak bagi setiap peserta magang. Hal ini penting agar pengalaman belajar mereka juga didukung oleh fondasi ekonomi yang memadai.

Baca Juga: Kuota Magang Nasional 2026 Naik Jadi 150 Ribu Peserta

Menurut Jobstreet, panpa kompensasi yang layak, program magang pada praktiknya hanya akan dapat diakses oleh kandidat dari kelompok ekonomi lebih mapan, sementara talenta potensial dari latar belakang kurang mampu tersaring sejak awal.

“Hal ini bukan hanya mengurangi keberagaman di dalam perusahaan, tetapi juga menutup kesempatan perusahaan untuk mendapatkan kandidat terbaik dari berbagai segmen masyarakat,” kata mereka.

Sementara bagi perusahaan, magang berbayar yang dirancang dengan baik akan memberikan nilai strategis. Perusahaan akan memperlihatkan komitmen etis, membangun persepsi positif, dan mendukung reputasi perusahaan sebagai employer of choice.

Nilai lainnya yaitu memperluas talent pool dan membuka akses bagi kandidat berprestasi yang tidak mampu bekerja tanpa bayaran, serta meningkatkan keterikatan dan produktivitas peserta magang, sehingga memperkuat pipeline kandidat untuk posisi penuh waktu.

“Dengan demikian, program magang yang adil dan dirancang dengan baik, dengan menyeimbangkan pengalaman belajar, kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah, serta kompensasi yang layak, bukan hanya keputusan moral, tetapi juga kebijakan bisnis yang cerdas untuk menjaga kesehatan ekosistem tenaga kerja dan daya saing perusahaan di masa depan,” pungkas Jobstreet.

Leave a Reply