Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Wednesday, December 11, 2019
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Review Susi Susanti: Love All, Bukan Film Biopik Biasa

Dok. Time International/Damn I Love Indonesia Movies

Topcareer.id – Film Susi Susanti: Love All digadang-gadang sebagai film biopik legenda hidup srikandi bulutangkis Indonesia. Namun, setelah tuntas menontonnya, saya memaknainya lebih dari sekadar cerita kisah hidup dan perjuangan Susi. Film ini punya pesan lebih besar dari itu.

Film ini tak hanya bicara tentang Susi atau kisah cintanya. Pesan film ini lebih besar dari sekadar kisah hidup orang Indonesia pertama yang meraih emas di ajang olahraga terakbar dunia bernama Olimpiade.

Pesan utama film ini—sebuah debut film panjang yang menjanjikan bagi Sim F, yang dikenal sebagai sutradara video klip dan iklan—adalah cinta tanah air tanpa reserve. Soal nasionalisme dan patriotisme yang tergambar di film ini lebih menyita perhatian ketimbang kisah hidup Susi (dimainkan Laura Basuki).

Cerita perjalanan hidup Susi Susanti hanya dipinjam untuk menyampaikan pesan tentang nasionalisme, berikut problematikanya terutama pada keturunan Tionghoa.

Baca juga: Susi Susanti di Mata Sang Pelatih

Bila menonton film ini dengan harapan menonton sebuah biopik yang runut dan fokus pada jatuh bangun si tokoh utamanya, bakal kecewa. Namun, bila mendudukkan film ini sejak awal sebagai civic education alias pelajaran ketatanegaraan, penonton akan mendapatkan pelajaran berharga.

Momen kunci film ini bukan dimulai saat Susi kecil mengalahkan juara bulu tangkis di acara Agustusan. Tapi di ruang rapat Try Sutrisno (dimainkan Farhan) petinggi ABRI (kini TNI) yang mengurusi bulu tangkis.

Kita tahu, bagi sebuah rezim otoritarian, supremasi di bidang olahraga amatlah penting. Cabang olahraga yang paling mungkin dipakai rezim Orde Baru adalah bulu tangkis. Namun banyak yang jago main bulu tangkis nyatanya berasal dari etnis Tionghoa.

Kita juga tahu, di masa Orde Baru, etnis Tionghoa diperlakukan tak adil. Hak politik dan warga negara mereka dikebiri. Sebagai warga negara, mereka ditempatkan sebagai warga kelas dua yang diharuskan menunjukkan dokumen bernama SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia).

Baca juga: Review Perempuan Tanah Jahanam: Joko Anwar Sekali Lagi Bicara Ibuisme

Di masa lalu itu pula, prasangka terhadap etnis Tionghoa dilestarikan. Karena hak politik dicabut, hanya di bidang ekonomi mereka diberi keleluasaan. Namun itu pun diberikan demi menjamin keberlangsungan koruptif rezim.

Dok. Time International/Damn I Love Indonesia Movies

Menyusul parahara politik 1965, etnis Tionghoa di Indonesia dicap bagian dari China komunis. Peristiwa itu memaksa ribuan keturunan Tionghoa eksodus ke China. Otomatis mereka kehilangan status kewarganegaraannya.

Dua di antara orang tersebut adalah Liang Chiu Sia (Jenny Zhang) dan Tong Sin Fu (Chew Kin Wah). Keduanya jadi harapan rezim Orde Baru memajukan bulu tangkis agar gengsi bangsa terangkat jelang ajang Sudirman Cup pertama di pertengahan 1980-an. Liang Chiu Sia kemudian menjadi pelatih Susi.

Bagi Chiu Sia, Susi adalah tiket emasnya untuk mendapatkan status kewarganegaraan. Rezim Orde Baru padanya menegaskan, raih prestasi dahulu baru kita bicara soal lain-lain.

Baca juga: Liang Chiu Sia: Jadi Atlet Harus Juara

Hanya saja, imbalan itu tak kunjung diberikan. Termasuk kemudian juga pada Susi Susanti yang telah berprestasi menjuarai berbagai turnamen bulu tangkis dunia. Kita melihatnya ditelepon langsung Presiden Soeharto. Sang presiden menaruhkan harapan padanya. Tapi di saat bersamaan ia dipersulit saat mengurus SBKRI. Kekesalan Susi memuncak ketika secara terbuka ia mempertanyakan status kewarganegaraannya.

Tidak hanya itu, ketika kerusuhan 1998, keluarga Susi turut jadi korban. Rumahnya di Tasikmalaya dilempar molotov. Saat itu terngiang ucapan kakak Susi, prestasinya mengharumkan Indonesia di pentas bulu tangkis tak bisa menjamin ia dan keluarga selamat dari kerusuhan rasial.

Dok. Time International/Damn I Love Indonesia Movies

Film memperlihatkan, saat kerusuhan Mei 1998, tim bulu tangkis Indonesia, yang kebanyakan etnis Tionghoa, tengah bertanding di Hong Kong. Mereka didemo warga di sana atas perlakuan brutal warga Indonesia pada etnis Tionghoa saat terjadi kerusuhan.

Kita tahu, saat kerusuhan toko-toko milik etnis Tionghoa dibakar massa. Sejumlah perempuan Tionghoa juga dikabarkan diperkosa. Wajar bila warga China dan Hong Kong protes atas kejadian tersebut. Namun menempatkan protes pada pemain bulu tangkis Indonesia terasa paradoksal.

Baca juga: Review Film Joker: Kala Kebobrokan Sosial dan Depresi Melahirkan Penjahat

Di Hong Kong pula kita menyaksikan krisis nasionalisme yang menghinggapi para atlet. Mereka mempertanyakan kembali status mereka sebagai orang Indonesia. Saat itulah Susi bangkit, mengenakan jaket putih bertuliskan “INDONESIA”. Ia sudah menentukan pilihannya.

I am Indonesian,” katanya pada reporter CNN. “I always be.”

Itu momen puncak filmnya buat saya. Namun, film ini memang terlihat banyak maunya. Setelah momen itu kita masih menyaksikan berbagai penggalan hidup Susi hingga berakhir ketika ia dikatakan menggantungkan raket begitu hamil. Ini rasanya yang bikin penontonnya merasa filmnya tak fokus.

Buat saya tak masalah. Susi Susanti: Love All punya signifikansi lebih besar dari sekadar menyampaikan kisah hidup Susi. Ini film penting buat berkaca pada kecintaan untuk Ibu Pertiwi. Lain tidak.*

Editor: Feby Ferdian

ade.irwansyah@gmail.com'
the authorAde Irwansyah

Leave a Reply