Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sunday, August 16, 2020
redaksi@topcareer.id
Profesional

Pusiiing… Ini yang Bikin Guru Stres Saat Bekerja

Ilustrasi guru. (dok. istimewa)

Topcareer.id – Seorang guru yang mayoritas kegiatannya diisi dengan mengajar, bisa stres juga selama bekerja. Ya, namanya juga manusia. Tapi tugas guru mencerdaskan anak bangsa, tetap pekerjaan mulia.

Ada beberapa faktor kenapa guru bisa stres dalam pekerjaannya. TopCareer.id bertanya kepada beberapa guru soal penyebab mereka stres selama menjalankan tugas. Jawaban mereka pun macam-macam.

Orangtua yang tidak kooperatif

Untuk mensukseskan peran guru dalam mendidik anak murid, perlu kerja sama yang apik dengan orangtua. Lagi-lagi mencerdaskan anak bangsa, tak hanya andil dari satu pihak saja, yakni guru sebagai pengajar di sekolah.

Orangtua yang tidak kooperatif nyatanya membuat stres guru dalam bekerja. Seperti yang diutarakan oleh mantan guru SMK Swasta Yapimda, Afni Zulfa. Menurutnya, peran orangtua di sini penting sekali dalam kesuksesan kerja guru mendidik anak.

Baca juga: 10 perguruan Tinggi Terbaik Indonesia Versi Kemenristekdikti Tahun 2019

“Ketika anak salah karena jarang masuk dan malas ngerjain tugas tanpa alasan logis, tapi orangtuanya nggak mau kerja sama untuk sekadar kasih advice ke anak,” kata Afni kepada TopCareer.id dalam pesan singkat WhatsApp saat ditanya apa yang membuat guru stres saat bekerja.

Karena anak sekolah belum sadar karakter mereka, maka di situ ada peran guru. Nah, agar polesan si anak menjadi kian mulus dan tetap positif, tentu perlu bantuan orangtua di rumah serta lingkungannya.

Hal yang sama juga diutarakan Nurul, guru SDN 04 Ketindan, Kebupaten Malang. Duka menjadi seorang guru menurutnya adalah ketika orangtua tidak memberikan dukungan penuh kepada anak atas apa yang sudah diajarkan oleh guru di sekolah.

“Di sekolah, kami (guru) beri ilmu (ke anak) selama 5 jam. Eeh.. giliran di rumah sama orangtua, banyak yang dicuekin anaknya, ditinggal kerja,” ucap Nurul.

Rencana Perangkat Pembelajaran Bikin Otak Runyam

Kalau murid punya PR atau pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, kalau guru harus membuat Rencana Perangkat Pembelajaran (RPP) yang membantu tugas mereka selama mengajar di kelas. Jika guru tidak membuat perangkat pembelajaran, maka ia tak punya acuan selama mengajar.

Murti Sulistia Ningsih, seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) YAPIA Pondok Aren, mengaku bahwa dirinya sering merasa stres kalau harus mengerjakan RPP.

Baca juga: Tips Guru Hadapi Murid Nakal di Kelas

“Yang bikin stres itu bikin perangkat pembelajaran, prota (program tahunan), promes (program semester), silabus, KKM (kriteria ketuntasan minimal), dan lain-lain. Ibarat kalau mau jadi petani harus tahu cara macul, kapan nanem, kapan panen,” ucap perempuan yang akrab disapa Tia ini.

Setiap guru atau pendidik biasanya akan diminta untuk membuat RPP secara lengkap dan sistematis agar pengajaran bisa berlangsung sesuai standar. RPP disusun berdasarkan mata pelajarannya atau subtema.

Pembuatan RPP oleh pendidik dilakukan setiap awal semester atau awal tahun pelajaran. Jadi, ketika murid-murid masuk sekolah, guru sudah siap mengajar dengan RPP matang di tangan.  Menurut Tia pribadi, hal-hal yang bersifat adminstratif itu kerap membuatnya pusing saat beprofesi sebagai guru. *

Editor: Ade Irwansyah

Leave a Reply