Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Wednesday, December 11, 2019
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Review Jumanji – The Next Level: Membawa Franchise ke Level Berikut

Dok. Sony Pictures

Topcareer.id Jumanji: Welcome to the Jungle adalah kejutan yang manis tahun 2017 lalu. Di saat banyak orang skeptis filmnya hanya ikutan tren reboot dan remake, nyatanya yang disuguhkan sesuatu yang menyegarkan. Maka sekuelnya Jumanji: The Next Level punya tantangan lebih berat. Sebab, jarang sekali ada sekuel yang melebihi pencapaian film pendahulunya.

Anak-anak generasi 1990-an jatuh cinta dengan Jumanji (1995) yang dibintangi mendiang Robin Williams serta Kirsten Dunts saat masih remaja. Film yang dibesut Joe Johnston itu lahir ketika keajaiban CGI baru dimulai usai Jurrasic Park berhasil membangkitkan dinosaurus lewat olahan animasi komputer. Pencapaian itu memungkinkan apa saja bisa dibuat di layar. Termasuk kawanan badak berlari serta monyet-monyet liar mengamuk.

Bila ditengok lagi saat ini, terlihat betapa kaku animasi komputer di Jumanji rilisan 1990-an. Namun, filmnya tetap asyik ditonton. Sebab, bukan efek khusus yang sejatinya memikat kita pada filmnya. Namun pada kisah petualangan seru ala permainan maupun cerita hubungan ayah dan anak yang menyertainya.

Baca juga: Yuk, Ikut Jumanji Challange Bareng Sony Pictures dan Jungleland

Nah, tim yang membuat Jumanji: Welcome to the Jungle tampaknya paham bahwa cerita yang baik adalah alasan film Jumanji ’90-an terus dikenang selewat 20 tahun tayang. Sekadar menceritakan ulang tak menawarkan kebaruan apapun– selain efek CGI yang lebih halus–buat penonton anyar dan apalagi mereka yang dulu nonton filmnya di bioskop.

Maka paling tepat memang meng-update Jumanji dengan cerita baru, karakter baru, dan semesta yang lebih luas. Jumanji dekade 2010-an adalah Jumanji buat generasi sekarang, bukan generasi paman atau ayah mereka.

Buat generasi sekarang, hubungan antar teman sebaya atau perasaan terkucilkan maupun ingin diterima dalam lingkungan pertemanan di sekolah adalah isu yang penting. Di sini, yang bermain Jumanji bukan anak-anak ABG yang iseng atau marah pada orangtua karena kurang perhatian, tapi remaja usia SMA yang tengah mengalami krisis identitas.

Bermain Jumanji, dengan masuk ke dalam avatar atau karakter dalam permainan, bisa pula dimaknai betapa generasi sekarang tak puas akan kenyataan hidup yang mereka jalani. Lalu, mereka terjebak dalam wujud avatar palsu, berikut kelebihannya, untuk lari dari kenyataan.

Baca juga: Review Film Primal: Teror Binatang Buas di Tengah Laut

Bisa juga dimaknai, avatar dalam permainan Jumanji adalah alter ego generasi sekarang di media sosial, di mana setiap orang menyuguhkan versi yang ideal dari masing-masing.

Itu mungkin sebabnya, reboot Jumanji diterima penonton masa kini, meraup lebih dari USD 900 juta. Orang senang membayangkan diri bisa mewujud jadi Dwayne ‘The Rock’ Johnson yang perkasa dalam sebuah permainan.

Tontonan semua generasi

Bermain lewat avatar masih jadi jalan cerita utama Jumanji versi baru. Di The Next Level kita kembali bertemu karakter-karakter seperti Dr. Smolder Bravestone (Dwayne ‘The rock’ Johnson), Mouse Finbar (Kevin Hart), Shelly Oberon (Jack Black) dan Ruby Roundhouse (Karen Gillan). Sebagai tambahan, mungkin untuk memikat penonton Asia yang bejibun ditambahkan karakter baru Ming yang diperankan Awkwafina.

Kita juga kembali bertemu remaja-remaja yang dulu main video game Jumanji, yakni Spencer (Alex Wolff), Bethany (Madison Iseman), Fridge (Ser’Darius Blain), dan Martha (Morgan Turner).

Adegan film Jumanji: The Next Level (dok. Sony Pictures)

Kali ini mereka sudah kuliah dan pulang kampung untuk liburan Natal. Dikisahkan, Spencer putus dari Martha lantaran hubungan jarak jauh yang mereka jalani tak berhasil. Di saat galau, Spencer malah memperbaiki video game Jumanji yang dulu dirusak, lalu memainkannya. Para sahabatnya lalu juga masuk ke semesta Jumanji untuk menyelamatkannya.

Baca juga: (Review Film) 21 Alasan Kenapa Kamu Perlu Nonton 21 Bridges

Jika ceritanya cuma itu tentu filmnya saya anggap buruk lantaran tak menawarkan hal baru. Untunglah sutradara Jake Kasdan dan tim penulis punya sub-plot lain, yakni persahabatan dua pria gayek, Eddie (Danny DeVito) yang juga kakek Spencer dan mantan rekan bisnisnya Milo (Danny Glover).

Saya senang Hollywood jaman now tak melupakan bintang-bintang lawas yang kini sudah jarang main film macam DeVito dan Glover. Buat saya yang tumbuh nonton film di era 1990-an tentu masih terkenang bagaimana DeVito jadi Penguin di Batman Returns dan Danny Glover jadi mitra Mel Gibson di Lethal Weapon. Menyaksikan mereka main film lagi dan diberi peran atau karakter signifikan bikin hati puas.

Di sini pula, Jumanji: The Next Level berhasil membawa franchise ini ke level berikut. Ia bukan lagi kisah remaja murung mencari jati diri, tapi cerita tentang persahabatan yang tak kenal usia. Filmnya kena betul tak hanya generasi milenial atau Z, namun juga gen-X dan bahkan Baby Boomer. *

Editor: Feby Ferdian

ade.irwansyah@gmail.com'
the authorAde Irwansyah

Leave a Reply