3. Sesuaikan jawaban dengan usia pewawancara
Dalam buku “Crazy Good Interviewing,” John B. Molidor dan Barbara Parus menulis bahwa kamu harus bersikap sedikit berbeda berdasarkan generasi pewawancara. Inilah pemecahannya:
- Pewawancara generasi Y (antara 20 dan 30): Bawalah contoh visual dari pekerjaanmu dan sorot kemampuanmu untuk melakukan banyak tugas.
- Pewawancara Generasi X (antara 30 dan 50): Tekankan kreativitas dan sebutkan bagaimana keseimbangan kerja/kehidupan berkontribusi pada kesuksesan.
- Pewawancara Baby Boomer (antara 50 dan 70): Tunjukkan bahwa kamu bekerja keras dan menunjukkan rasa hormat atas apa yang telah mereka capai.
- Pewawancara Generasi Silent (antara 70 dan 90): Sebutkan kesetiaan dan komitmen pada pekerjaan sebelumnya.
4. Temukan kesamaan dengan pewawancara
Menurut “hipotesis kesamaan-ketertarikan,” kita cenderung menyukai orang-orang yang memiliki sikap yang sama.
Jadi, jika kamu tahu pewawancara benar-benar menghargai layanan masyarakat, maka kamu juga perlu melakukannya. Cobalah untuk membicarakan topik itu dalam percakapan.
5. Berkaca pada bahasa tubuh pewawancara
“Efek bunglon” adalah fenomena psikologis yang menggambarkan bagaimana orang cenderung lebih menyukai satu sama lain ketika mereka menunjukkan bahasa tubuh yang serupa.
Pakar bahasa tubuh, Patti Wood mengatakan bahwa idealnya itu terlihat seperti kamu “menari” dengan orang lain.
Jadi jika pewawancara condong ke depan di kursinya dan meletakkan tangannya di atas meja, jangan ragu untuk melakukan hal yang sama. Tenang, kemungkinan dia tidak akan memperhatikan bahwa kamu menirunya.