- Advertisement -
TopCareerID

Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Saturday, February 29, 2020
redaksi@topcareer.id
Profesional

Taruhan Nyawa Demi Menjaga Pasokan Daya

Perawatan jaringan listrik mutlak dilakukan untuk menjaga kesinambungan pasokan. Foto: Dok.PLN

Topcareer.id – “Kalau dokter sedang melakukan operasi kepada pasien, lalu listrik tiba-tiba mati, taruhannya adalah nyawa pasien,” ujar Martin Setiawan, seorang praktisi industri kelistrikan sebagaimana dikutip sebuah media nasional terkemuka.

Dok.PLN

Memang tidak terbayangkan apabila dalam situasi gawat darurat tersebut, listrik yang menggerakkan seluruh pelaratan medis tak bisa berfungsi karena tidak ada daya. Meskipun pada umumnya rumah sakit mencadangkan pasokan dari genset, perpindahannya pasti memakan waktu dan bisa berisiko terhadap keselamatan pasien yang sedang menjalani operasi.

Itu baru di satu sektor saja, pelayanan kesehatan rumah sakit. Bagaimana dengan industri? Bagaimana dengan transportasi? Bagaimana dengan perbankan? Ratusan, bahkan ribuan bidang kehidupan manusia, tergantung pada keberadaan listrik selama 24 jam penuh. Bagaimana jika transaksi perbankan tiba-tiba terhenti karena peralatannya mati? Bagaimana jika kereta api tiba-tiba berhenti karena ketiadaan pasokan listrik?

Baca Juga: Beda Pekerja Amatir Dan Profesional, Kamu Tergolong Yang Mana?

Listrik, memang sudah seperti nyawa manusia itu sendiri. Tanpanya, kita seolah-olah mati. Begitu tergantungnya hidup manusia terhadap listrik. Tapi kita tidak pernah bertanya, bagaimana listrik disediakan? Bagaimana menjaga supaya ia tetap ada di sekitar kita 24 jam 7 hari seminggu dan 30 hari sebulan, sepanjang tahun?

Dok.PLN

PLN sebagai penyedia jaringan listrik negara adalah pihak yang bertanggung jawab untuk memastikan pasokan listrik 24/7/30 tadi. Dengan kondisi geografis Indonesia yang kompleks, terdiri atas pulau-pulau besar dan kecil, PLN membagi-bagi pelayanannya ke dalam 22 sistem besar.

Seluruh sistem tersebut memerlukan perawatan rutin, pengawasan yang juga non-stop, 24/7. Sistem kelistrikan Pulau Jawa adalah yang paling besar kebutuhan dayanya, dan dengan demikian juga paling besar suplai dayanya. Di pulau inilah lebih dari 60 persen penduduk negeri yang jumlahnya hampir 270 juta tinggal.

Baca Juga: Selamat Datang Era Drone Pengangkut Manusia

Perawatan rutin, mutlak dilakukan untuk menjaga kesinambungan pasokan. Di Jakarta dan sekitarnya, salah satu instrumen vital untuk memastikan pasokan adalah jaringan tegangan ekstra tinggi dan gardu induk. Pemeliharaan SUTET dengan tegangan 500 kV adalah salah satu yang paling berisiko dan memerlukan penanganan cermat dan kehati-hatian ekstra tinggi.

Tiang jaringan listrik SUTET di Cawang, Jakarta Timur, misalnya, berdiri tegak setinggi 50 m. Di dalam kabel tersebut, ada setrum dengan tegangan 500 kV, yang siap membakar apa saja yang menyangkut di dalam kabel.

Para pekerja PLN di lapangan, harus melakukan pemeliharaan ini secara rutin, berdasarkan catatan dari sistem pengendali. Komponen apa yang harus dibersihkan, apa yang harus diganti, semuanya terdeteksi, dan memerlukan penanganan seketika jika terjadi gangguan.

Mereka bekerja dengan prosedur keamanan dan peralatan pengamanan yang sangat ketat dan tidak bisa ditawar-tawar. Jika di rumah sakit tiada listrik risikonya nyawa, pekerjaan perawatan ini juga bertaruh nyawa. Maka, keamanan dan keselamatan kerja adalah faktor paling utama.

Baca Juga: Pameran Indonesia Electric Motor Digelar Untuk Dorong Penggunaan Kendaraan Listrik

Jaringan di Cawang tadi, hanyalah satu titik yang harus dimonitor dan dijaga setiap saat. Saat ini, PLN harus bertanggung jawab terhadap jaringan tegangan ekstra tinggi sampai tegangan rendah, yang panjang jaringannya mencapai kira-kira 1 juta km. Lebih dari 20 kali keliling bumi yang cuma 45 ribu km.

Listrik adalah nyawa kehidupan. Memastikan keberadaan dan kelangsungannya, adalah tanggung jawab menyelamatkan nyawa jutaan manusia. PLN mengemban misi dan memikul tanggung jawab itu di pundak mereka. Dengan taruhan nyawa.

the authorRetno Wulandari

Leave a Reply