Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Friday, August 14, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Dampak Virus Korona pada Pekerja Rendahan dan Bisnis Kecil di Asia

Wabah virus korona di Wuhan. (dok. The Conversation)

Topcareer.id – Virus korona Covid-19 pertama kali menyebar dari Wuhan, China pada akhir Desember 2019 lalu yang hingga kini menyebar ke puluhan negara dan menewaskan lebih dari 1.500 orang. Efek dari virus ini juga bepengaruh pada para pekerja dan bisnis kecil.

Wabah seolah menjungkirbalikkan pekerjaan di Asia Timur dan Tenggara. Banyak bisnis tutup setelah liburan Tahun Baru China di akhir Januari, dan perusahaan meminta karyawan kerja dari rumah. Upaya China untuk melindungi pekerja dari sakit termasuk perpanjangan 10 hari liburan Tahun Baru Imlek yang membuat toko dan bisnis tutup lebih lama.

Bloomberg melaporkan, virus korona mendorong eksperimen kerja dari rumah yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi banyak karyawan kerah putih di bidang keuangan, teknologi, dan hukum.

Baca juga: Miris, Pekerja Medis Jadi yang Paling Berisiko Tertular Virus korona

Penelitian dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menunjukkan bahwa bekerja dari rumah menghambat penyebaran virus. Bangunan kantor juga memasang pembaca suhu untuk semua orang yang masuk.

Kseniya Otmakhova, seorang direktur PR di Beijing, berbagi foto dari proses penyaringan suhu yang luas di luar kantornya di LinkedIn. Dia mengatakan sementara waktu ini mungkin akan menemukan protokol “ekstrim,” tapi dia menghargai pendekatan proaktif untuk mencegah wabah itu.

Sementara, untuk usaha kecil dan pekerja berupah rendah, tidak pergi bekerja berarti kehilangan pendapatan.

Korn Opas, pemilik studio massage di Bangkok, misalnya, menjalankan bisnisnya seperti biasa tanpa mengambil cuti, dan dia menyuruh stafnya untuk mengenakan sarung tangan dan masker, dan untuk mencuci tangan di antara sesi pijat.

Baca juga: Keraguan Dunia atas Klaim Indonesia Bebas Korona

Sarah Lev, pemandu wisata lepas di Singapura, mengatakan biro perjalanan hanya mempekerjakannya lima hari untuk bulan Januari, dan dia belum dapat order pada Februari.

Usaha kecil yang rentan sudah mulai merumahkan ratusan karyawan di China, menurut South China Morning Post.

Beberapa pemilik bisnis yang terdampar di luar Hong Kong karena larangan perjalanan yang dilembagakan oleh Filipina mengatakan kepada Business Insider bahwa mereka takut kehilangan pendapatan berminggu-minggu dan bahkan kehilangan uang untuk bayar sewa karena kehilangan klien dan ketidakmampuan beberapa karyawan untuk bekerja.

Seorang pekerja rumah tangga di Hong Kong, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa dia telah kehilangan pekerjaan bersih-bersih untuk sebuah keluarga. Pekerja mengatakan dia tidak dapat pergi ke Hong Kong karena pembatasan perjalanan Filipina, jadi belum dibayar selama lebih dari dua minggu.

“Pengalaman kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki pekerjaan untuk kembali sangat mempengaruhi saya karena sepertinya saya harus mulai dari awal lagi,” kata pekerja itu pada Business Insider.

“Saya tidak bisa mengatakan posisi saya berbeda dari profesional lain karena kita semua bekerja demi uang untuk mendukung keluarga kita.” *

Editor: Ade Irwansyah

Leave a Reply