Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Saturday, October 24, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Virus Korona Berdampak pada 5 Juta Bisnis di Seluruh Dunia

Warga Wuhan, China. (dok. Business Insider)

Topcareer.id – Sebuah uraian khusus yang dikeluarkan oleh perusahaan riset bisnis global Dun & Bradstreet menganalisis provinsi-provinsi China yang paling terkena dampak virus Korona Covid-19. Dari situ mendapati bahwa mereka terhubung secara rumit dengan jaringan bisnis global.

Dari studi tersebut mengatakan “shut down” yang masih berlanjut di China akibat virus korona bisa berdampak pada lebih dari 5 juta bisnis di seluruh dunia.

Daerah yang terkena dampak dengan 100 atau lebih kasus yang dikonfirmasi pada 5 Februari adalah rumah bagi lebih dari 90% semua bisnis aktif di China, menurut laporan itu. Dan sekitar 49.000 bisnis di wilayah ini adalah cabang dan anak perusahaan dari perusahaan asing.

Baca juga: Dampak Virus Korona pada Pekerja Rendahan dan Bisnis Kecil di Asia

Hampir setengah (49%) dari perusahaan dengan anak perusahaan di daerah yang terkena dampak bermarkas di Hong Kong, sedangkan Amerika Serikat menyumbang 19%, Jepang 12% dan Jerman 5%.

Peneliti Dun & Bradstreet menemukan bahwa setidaknya 51.000 perusahaan di seluruh dunia, 163 di antaranya berada dalam Fortune 1.000. Dan mereka setidaknya memiliki satu atau lebih pemasok langsung atau pemasok “tingkat 1” di wilayah yang terkena dampak. Sementara setidaknya 5 juta – dan 938 masuk daftar perusahaan Fortune 1000 – memiliki satu atau lebih pemasok “tingkat 2.”

Baca juga: Keraguan Dunia atas Klaim Indonesia Bebas Korona

Dampak pada bisnis di China dan di seluruh dunia sudah menyeret turun perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini.

Korban ekonomi global menjadi “parah” jika tingkat infeksi dan meningkatnya jumlah kematian tidak mereda, dengan gangguan rantai pasokan internasional memperkuat guncangan.

“Sudah ada bukti meskipun anekdotal  bahwa rantai pasokan sedang terganggu, termasuk di luar China. Selain itu, ‘lockdowns–penutupan akses’ yang diperpanjang di China akan memiliki dampak global mengingat pentingnya dan keterkaitan negara itu dalam ekonomi global,” kata Wakil Presiden Moody, Madhavi Bokil dalam catatan penelitian, seperi dilansir dari laman CNBC.

Laporan Dun & Bradstreet mengidentifikasi bahwa lima sektor utama teratas, yang menyumbang lebih dari 80% bisnis di provinsi yang terkena dampak, adalah layanan, perdagangan grosir, manufaktur, ritel, dan layanan keuangan.

Dun & Bradstreet berhipotesis bahwa sebagian besar pekerjaan dan penjualan China berasal dari perusahaan di wilayah yang terkena dampak. *

Editor: Ade Irwansyah

Leave a Reply