Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Senin, April 19, 2021
redaksi@topcareer.id
Kerja Dari Rumah

Ternyata WFH Juga Bikin Boros, Lho. Ini Penjelasannya

Unhealthy snack at work time. Compulsive indulgence, overeating, stress, high calorie, fattening junk food, weight gain. Woman eating cookies at workplace

Topcareer.id – Pandemi virus corona telah memaksa banyak perusahaan memberlakukan sistem kerja dari rumah atau working from home (WFH). Bagi kamu yang menyukai pekerjaan remote mungkin sudah tidak asing lagi dan akan merasa nyaman.

WFH selain menghemat energi, juga memiliki manfaat lain seperti otonomi, fleksibilitas, dan kenyamanan bekerja. Seringkali hal ini membuat lupa bahwa WFH tidak hanya pro, namun juga ada kontra nya.

Pro dan kontra juga bisa bersifat uang. WFH ternyata juga bikin boros. Namun akan mudah bagimu untuk mengabaikan pengeluaran yang lebih besar waat WFH ketika kamu menikmatinya.

Dikutip dari Bplans.com, Senin (20/4/2020), saat WFH kamu akan berpikir bisa menghemat biaya transport seperti uang untuk naik kendaraan umum atau buat yang pakai motor atau mobil ke kantor berarti bebas uang bensin, tol, hingga parkir.

Baca juga: 7 Aturan yang Perlu Diterapkan dengan Rekan Kerja Saat WFH

Kerja di kantor juga membuatmu harus mengeluarkan biaya makan di luar. Kalaupun kamu membawa bekal, saat teman-teman di kantor pergi membeli jajanan kamu jadi mudah tergoda untuk ikut jajan.

Di kantor juga kamu mungkin akan terpaksa melakukan pengeluaran mendadak yang sulit kamu hindari seperti teman yang meminta sumbangan kepada kamu atas nama solidaritas untuk merayakan acara ulang tahun rekan kerja misalnya dan lain-lain. Dan kamu tidak ingin terlihat menjadi satu-satunya orang yang menolak dan akan dianggap pelit lalu tidak diajak bergabung.

Jadi, bekerja di rumah atau WFH tentunya akan terlihat lebih menyenangkan dari sisi finansial untuk menjaga keamanan dompet kamu.

Godaan WFH jadi boros

Jangan salah, WFH pun sebetulnya tak kalah boros dengan pergi bekerja di kantor setiap hari. Mulai dari tagihan listrik rumah yang bengkak akibat kamu seharian bekerja di rumah menggunakan komputer dan saat menonton serial TV saat kamu rehat, membuat listrik di rumah jadi lebih banyak digunakan.

Kamu mungkin irit ongkos transport, tetapi di rumah pun kamu tidak akan bisa menghindari untuk jajan. Apalagi kamu tidak bisa kemana-mana sehingga kamu menjadi iseng melihat promo-promo makanan pada aplikasi online dan melakukan pembelian makanan.

Karena kamu merasa membeli dengan harga murah, kamu pun akan tertarik untuk menggunakan promonya lagi dan lagi untuk membeli makanan sehingga banyak juga uang yang kamu keluarkan.

Tidak hanya makanan, saat WFH juga kamu akan diganggu dengan promo barang-barang menarik yang mungkin kamu belum miliki atau sedang kamu butuhkan. Pengeluaran lain-lain jadi bertambah untuk membeli barang-barang dengan embel-embel promo atau flash sale.

Sama seperti promo makanan, ketika kamu mendapat suatu barang dengan harga promo, kamu akan kecanduan untuk membelinya lagi dan lagi dengan pembelaan diri untuk menjaga kesehatan mental saat terkurung di rumah tidak bisa kemana-mana.

Baca juga: Tips WFH yang Produktif dan Bahagia ala Astronot NASA

WFH pasti memerlukan beberapa pengeluaran tambahan, apakah itu meng-upgrade komputer supaya dapat bekerja lebih efektif, membayar biaya langganan internet dengan kecepatan dan kuota yang lebih tinggi, atau berinvestasi dalam peralatan tambahan seperti mesin faks, scanner, hingga webcam. Kamu juga bisa saja memerlukan software khusus, stok makanan, stok barang, biaya pengiriman, dan barang-barang lainnya.

So, bekerja dari rumah juga tidak irit-irit amat dan tidak terlalu berbeda jauh dengan saat harus bekerja di kantor. Memang untuk fleksibilitas dan kenyamanan yang mendukung produktivitas kerja bisa diandalkan. Pertahankanlah hal ini.

Namun untuk biaya pengeluaran, saat WFH sebaiknya kamu melakukan penganggaran ketat, perhitungkan segala macam biaya. Sehingga kamu bisa menjalankan WFH dengan efektif dan efisien. *

Editor: Ade Irwansyah

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan