Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Thursday, August 6, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Ilmuwan Anggap Susu Kecoa Bisa Menjadi Makanan Super Masa Depan

Kecoa. (dok. PestControl)

Topcareer.id – Sebuah tim ilmuwan internasional mengurutkan kristal protein yang terletak pada bagian tengah perut kecoak pada 2016 lalu.

Menurut mereka susu kecoa empat kali lebih bergizi daripada susu sapi dan para peneliti berpikir itu bisa menjadi kunci untuk memberi makan populasi manusia di masa depan nanti.

Meskipun sebagian besar kecoak tidak benar-benar menghasilkan susu, Diploptera punctate, yang merupakan satu-satunya kecoak yang diketahui terbukti memompa sejenis kristal protein mengandung protein ‘susu’ untuk memberi makan bayinya.

Baca juga: 9 Masalah Kesehatan yang Biasa Dialami Pekerja Kantoran

Fakta bahwa seekor serangga menghasilkan susu sangat menarik, tetapi apa yang membuat para peneliti terpesona adalah fakta bahwa satu dari protein kristal ini mengandung lebih dari empat kali jumlah energi yang ditemukan dalam jumlah yang setara dengan susu sapi biasa.

Memerah susu kecoa bukanlah pilihan yang paling layak, jadi tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh para peneliti dari Institute of Stem Cell Biology dan Regenerative Medicine di India memutuskan untuk mengurutkan gen-gen yang bertanggung jawab dalam menghasilkan kristal protein susu.

“Kristal itu seperti makanan lengkap, mereka memiliki protein, lemak, dan gula. Jika Anda melihat ke dalam urutan protein, mereka memiliki semua asam amino esensial,” kata Sanchari Banerjee, salah satu anggota tim ilmuwan.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Antibodi Sintetis Bisa Mencegah dan Mengobati COVID-19

Sekarang para peneliti memiliki urutan gen, mereka berharap untuk mendapatkan ragi untuk menghasilkan kristal dalam jumlah yang jauh lebih besar untuk membuatnya sedikit lebih efisien dan tidak kotor daripada mengekstraksi kristal langsung dari perut kecoa.

Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal International Union of Crystallography. *

Editor: Ade Irwansyah

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply