Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Senin, Agustus 2, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Di Eropa Penderita Gangguan Mental Tak Masuk Daftar Vaksinasi Covid-19

Topcareer.id – Sebagian besar negara Eropa mengabaikan pasien yang sakit mental dalam menjalankan strategi inokulasi masal vaksin COVID-19 meskipun pasien penyakit mental sangat rentan tertular virus corona dan meninggal karena penyakit tersebut.

Beberapa organisasi kesehatan mental terkemuka telah memperingatkan pada hari Rabu (17/2).

Dari 20 negara Eropa yang disurvei untuk sebuah penelitian, hanya Belanda, Inggris, Jerman dan Denmark yang diketahui peduli terhadap penyakit mental yang parah sebagai kondisi medis berisiko tinggi dan telah membuat ketentuan khusus untuk memvaksinasi pasien.

Baca Juga: Serbia Jadi Negara Eropa Pertama yang Gunakan Vaksin COVID-19 buatan China

“Pasien-pasien sakit mental ini benar-benar diabaikan dalam kebanyakan rencana vaksinasi, dan ini perlu diubah,” kata Livia De Picker, seorang profesor di University Psychiatric Hospital Campus Duffel di Belgia yang ikut memimpin penelitian.

“Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa jika Anda memiliki gangguan mental atau kejiwaan, risiko Anda terinfeksi virus corona meningkat sebesar 65%, dan pasien yang sakit jiwa parah berada di antara 1,5 dan 2 kali lebih tinggi kemungkinannya untuk meninggal.”

Penemuan ini telah dipublikasikan di jurnal Lancet Psychiatry pada Rabu malam (17/2).

Peneliti yang melakukan survei, bersama dengan organisasi kesehatan mental pasien dan klinis utama di Eropa, meminta Uni Eropa untuk menetapkan standar di seluruh wilayah dan memastikan pasien dengan kesehatan mental yang rentan diprioritaskan untuk mendapatkan vaksin.

Baca Juga: Inggris Yakin Pasokan Vaksin COVID-19 Aman setelah Mendapat Jaminan dari Uni Eropa

“Sering terjadi di banyak negara ketika menetapkan prioritas vaksin, betapa sedikit negara yang memprioritaskan kesehatan mental, risiko ini melanggengkan pengabaian masalah kesehatan mental,” kata Marion Leboyer, salah satu penulis studi dan profesor di Universitas Paris. Est Créteil.

“Ini adalah masalah besar di Eropa, dan akan terus berlanjut kecuali ada tindakan yang diambil.”pungkasnya.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan