Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, September 23, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

AstraZeneca Belum Temukan Bukti Risiko Pembekuan Darah dari Vaksinnya

Ilustrasi Vaksin. Dok/Pixabay

Topcareer.id – AstraZeneca tidak menemukan bukti peningkatan risiko pembekuan darah dari vaksin buatan mereka. Pihaknya mengatakan pada Minggu (14/3) kemarin bahwa tinjauan data keamanan orang yang divaksinasi dengan vaksin COVID-19 tidak menunjukkan bukti peningkatan risiko pembekuan darah.

Tinjauan AstraZeneca, yang mencakup lebih dari 17 juta orang yang divaksinasi di Inggris dan Uni Eropa, dilakukan setelah otoritas kesehatan di beberapa negara di Eropa menangguhkan penggunaan vaksinnya karena masalah pembekuan darah sebagai bentuk efek samping dari vaksin.

“Peninjauan yang cermat terhadap semua data keamanan yang tersedia dari lebih dari 17 juta orang yang divaksinasi di Uni Eropa dan Inggris dengan Vaksin COVID-19 AstraZeneca tidak menunjukkan bukti peningkatan risiko emboli paru, trombosis vena dalam atau trombositopenia, dalam usia tertentu, jenis kelamin, kelompok atau di negara tertentu,” kata perusahaan, seperti dikutip dari Reuters.

“Sangat disesalkan bahwa beberapa negara Eropa telah menghentikan vaksinasi dengan alasan ‘kehati-hatian’ seperti itu. Hal ini berisiko menimbulkan kerugian nyata pada tujuan memvaksinasi banyak orang untuk memperlambat penyebaran virus, dan untuk mengakhiri pandemi,” jelas Peter English, seorang pensiunan konsultan pemerintah Inggris dalam pengendalian penyakit menular.

Baca juga: Elon Musk Akan Lakukan Uji Coba Pemasangan Chip Pada Otak Manusia Tahun Ini

AstraZeneca mengatakan, sejauh ini 15 peristiwa trombosis vena dan 22 peristiwa emboli paru telah dilaporkan.

Perusahaan mengatakan pengujian tambahan telah dan sedang dilakukan oleh perusahaan serta otoritas kesehatan Eropa, dan tidak ada tes ulang yang menunjukkan kekhawatiran. Laporan keamanan bulanan akan dipublikasikan di situs web EMA.

Vaksin AstraZeneca, yang dikembangkan bekerja sama dengan Universitas Oxford, telah diizinkan untuk digunakan di Uni Eropa dan banyak negara tetapi belum oleh regulator di A.S.

Beberapa negara Eropa yang menangguhkan penggunaannya antara lain Belanda, Norwegia, Irlandia, Islandia, Denmark, Astria, hingga Italia.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan