Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Rabu, Juli 6, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Mahasiswa di Kamboja Ciptakan Drone Berawak untuk Bantu Masyarakat

Topcareer.id – Terinspirasi oleh keinginan untuk mengatasi lalu lintas kota yang terkenal buruk, sekelompok mahasiswa Kamboja merancang sebuah drone prototipe berawak yang mereka harapkan dapat digunakan untuk mengangkut orang-orang di sekitar Phnom Penh dan bahkan membantu memerangi kebakaran.

Dengan delapan baling-baling, pesawat drone itu dikembangkan oleh siswa di Institut Politeknik Nasional Kamboja (NPIC) di pinggiran ibu kota.

“Drone, ketika kami melihatnya terbang tanpa pilot, ada banyak guncangan tetapi ketika saya duduk di dalamnya dan terbang, itu menjadi lebih stabil dan saya merasa sangat bersemangat,” kata Lonh Vannsith (21), pilot dari pesawat drone tak berawak.

“Kami ingin memecahkan beberapa masalah bagi masyarakat dengan membuat drone taksi dan menciptakan drone untuk petugas pemadam kebakaran,” katanya.

Mereka berharap dronenya bisa membantu mencapai lantai atas sebuah gedung untuk membawa selang di mana mobil pemadam kebakaran tidak bisa mencapainya.

Prototipe ini dapat membawa pilot dengan berat hingga 60 kg dan terbang selama sekitar 10 menit untuk jarak 1 km.

Butuh tiga tahun penelitian dan pengembangan serta biaya sekitar USD 20.000 atau sekitar Rp 8 miliar untuk membangunnya.

Sedangkan tim berharap nantinya drone bisa terbang jauh lebih tinggi, saat ini ketika drone diawaki hanya bisa naik setinggi 4 meter.

Baca juga: 10 Drone Terbesar di Dunia untuk Kebutuhan Sipil Hingga Militer

“Proyek ini sempat mengalami penundaan karena lockdown selama pandemi COVID-19. Komponen seperti baling-baling serta rangka juga harus dipesan di luar negeri,” kata Sarin Sereyvatha, kepala teknologi penelitian dan pengembangan NPIC.

Tim berencana untuk meningkatkan desain agar dapat membawa lebih banyak bobot, serta terbang lebih jauh dan lebih stabil di tingkat yang lebih tinggi.

“Prinsipnya kalau kita buat satu drone biayanya mahal tapi kalau kita buat untuk dijual di pasaran, biayanya akan turun,” kata Sarin Sereyvatha.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan