Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Desember 2, 2021
redaksi@topcareer.id
Tips KarierTren

Apa Iya, 4 Hal Ini yang Dibenci Jobseeker dari Lamaran Kerja Online?

Ilustrasi lowongan kerja. Dok/Pixabay

Topcareer.id – Sebagian besar pencari kerja saat ini melamar dengan mengisi aplikasi online untuk calon perusahaan. Aplikasi otomatis ini meminta kandidat untuk memasukkan informasi pribadi dan resume mereka, biasanya dalam bentuk menu dropdown dan kolom kosong.

Informasi itu menjadi bagian dari basis data pelamar yang luas, hanya sedikit yang beruntung yang benar-benar dihubungi oleh pemberi kerja. Sementara aplikasi otomatis dapat menyelamatkan manajer perekrutan dari kerumitan memilah-milah rentetan email dengan resume tradisional.

Menurut studi tahun 2013 oleh penyedia layanan rekrutmen Sevenstep RPO, proses lamaran kerja online adalah bagian dari masalah.

Paul Harty, kepala solusi Sevenstep RPO mengatakan, membangun saluran bakat yang kuat dan berkelanjutan harus menjadi agenda utama setiap perusahaan, tetapi pengusaha tidak mengelola proses aplikasi dengan cara yang memungkinkan mereka untuk sepenuhnya menangkap dan memanfaatkan bakat kandidat mereka.

Sevenstep menggunakan data surveinya untuk mengungkap empat masalah teratas yang dihadapi kandidat dengan lamaran kerja online.

1. Kandidat yang mendaftar secara online sering diabaikan

Seperempat responden survei Sevenstep RPO menunjukkan bahwa mereka tidak pernah menerima pemberitahuan dari pemberi kerja atas aplikasi online terakhir mereka. Pekerja berumur dan milenial tampaknya merupakan kelompok usia yang paling mungkin diabaikan oleh pemberi kerja, dengan hampir 45% manula dan 40% milenial melaporkan bahwa mereka tidak mendapatkan tanggapan dari pemberi kerja.

2. Aplikasi online membutuhkan waktu terlalu lama untuk diisi

Hampir sepertiga (30%) dari semua kandidat tidak akan menghabiskan lebih dari 15 menit untuk mengisi aplikasi online, meskipun toleransi untuk aplikasi yang panjang bervariasi berdasarkan usia.

Baca juga: Lakukan Ini Jika Kamu Datang Terlambat Ke Kantor

Kandidat berusia 25 hingga 34 tahun tampaknya merupakan kelompok usia yang paling tidak sabaran, karena 36% dari mereka bersedia menghabiskan waktu 15 menit atau kurang, sementara 35% milenium (saat itu di bawah usia 25) bersedia menghabiskan waktu 45 menit atau lebih untuk satu aplikasi.

3. Perusahaan tidak bisa tetap berhubungan

Penulis survei Sevenstep mencatat bahwa pengusaha harus menciptakan komunitas bakat sejati melalui jaringan untuk mendorong keterlibatan kandidat yang berkelanjutan, bahkan jika tidak ada posisi yang tersedia untuk kandidat tertentu.

Dua pertiga dari semua kandidat yang disurvei tidak diminta untuk bergabung dengan komunitas bakat calon pemberi kerja, yang berarti tidak ada komunikasi lebih lanjut setelah mereka mengajukan aplikasi mereka.

4. Kandidat mendapatkan respons otomatis, bukan respons dari orang sungguhan

Lebih dari 40% dari semua responden survei mengatakan mereka mencari kontak sumber daya manusia langsung di situs web bisnis, bahkan setelah mengisi aplikasi online. Perilaku ini sangat umum di kalangan rumah tangga berpenghasilan tinggi: 80% kandidat dengan pendapatan antara $100.000 dan $150.000 melaporkan bahwa mereka lebih suka melamar langsung melalui manajer perekrutan daripada melalui formulir online.**(Feb)

Tinggalkan Balasan