Lifestyle

Self-Care Bermanfaat, Tapi Bukan Asal Minum Obat

TopCareer.id – Asia-Pasific Self Medication Industry (APSMI) mengingatkan masyarakat bahwa pengobatan mandiri atau self-care bukan berarti asal minum obat dengan sembarangan.

Hal ini dinyatakan APSMI dalam memperingati International Self-Care Day yang jatuh pada Jumat (24/7/2026).

Merawat diri (self-care) didefinisikan sebagai kemampuan individu, keluarga, dan masyarakat untuk mempromosikan kesehatan, mencegah penyakit, memelihara kesehatan, serta mengatasi penyakit baik dengan atau tanpa bantuan tenaga medis.

Jika didukung literasi kesehatan yang memadai, self-care memungkinkan masyarakat menangani keluhan kesehatan ringan sendiri sebagai langkah awal, serta tahu kapan waktunya berkonsultasi dengan dokter.

World Health Organization (WHO) menilai intervensi self-care penting dalam mewujudkan kesehatan bagi semua orang dan mempercepat cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage/UHC) tanpa kendala finansial.

“Berbagai bukti menunjukkan bahwa self-care yang bertanggung jawab memberikan dampak positif yang signifikan, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi sistem kesehatan dan perekonomian,” kata Rachmadi Joesoef, Chairman APSMI, mengutip siaran pers, Sabtu (25/7/2026).

Baca Juga: Penyalahgunaan Obat Masih Jadi Tantangan Sektor Kesehatan

Rachmadi menyebut, berdasarkan laporan riset sosio-ekonomi tahun 2026 yang dirilis Global Self-Care Federation (GSCF), self-care yang bertanggung jawab menghemat sekitar USD 144 miliar (setara Rp2.200 triliun lebih) per tahun pada anggaran kesehatan global,

Self-care yang tepat juga bisa menghemat sekitar 2,2 jam waktu pelayanan dokter, menghasilkan tambahan 43,6 miliar hari produktif, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

Setiap kasus penyakit ringan yang dapat ditangani secara mandiri di rumah akan memberikan kesempatan bagi pasien dengan kasus serius untuk mendapatkan penanganan medis lebih cepat di rumah sakit.

Selain itu, self-care juga membantu menjaga kapasitas tenaga kesehatan yang terbatas, dengan mengedukasi masyarakat agar bisa mengelola gejala penyakit ringan secara mandiri. Ini membuat dokter bisa lebih fokus pada penanganan kasus-kasus medis yang kompleks dan mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Baca Juga: Disebut Sebagai Silent Pandemic, Ini Bahaya Nyata Resistensi Antibiotik

Namun, APSMI menegaskan pengobatan mandiri bukan berarti mengonsumsi obat secara sembarangan.

Self-care yang bertanggung jawab perlu pengetahuan yang cukup, termasuk soal memilih obat bebas secara tepat, memahami informasi pada label dan kemasan produk, mengikuti petunjuk penggunaan, serta mengenali gejala-gejala yang perlu pemeriksaan dokter.

Rachmadi menegaskan, self-care yang bertanggung jawab dimulai dari literasi kesehatan.

“Ketika masyarakat memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri untuk mengelola gangguan kesehatan ringan dengan tepat, mereka tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan pribadi, tetapi juga membantu sistem layanan kesehatan fokus pada pasien yang membutuhkan penanganan medis kompleks,” ujarnya.

Dia menambahkan, peningkatan literasi kesehatan adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi erat antara regulator, tenaga medis, industri, akademisi, dan masyarakat.

Banner Loker

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button