TopCareer.id – Media sosial belakangan diramaikan dengan visual salam tiga jari yang viral usai sejumlah aksi massa terjadi belakangan ini.
Salam tiga jari ini diacungkan demonstran sebagai simbol perlawanan di tengah tuntutan terkait kesulitan ekonomi, korupsi, dan lambatnya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Radius Setiyawan, Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mengatakan, salam tiga jari menunjukkan bagaimana simbol visual dapat melampaui batas negara dan menjadi bahasa solidaritas gerakan sosial.
Ia menyebut, simbol ini dikenal luas lewat film The Hunger Games, lalu diadopsi dan diberi makna baru sesuai konteks politik masing-masing negara. Penggunaannya lalu ramai oleh gerakan pro-demokrasi seperti di Thailand, Myanmar, dan Hong Kong.
Menurut Radius, pemakaian simbol visual semacam ini menarik karena tidak mengenal batas bahasa.
“Orang di negara berbeda bisa menggunakan gestur yang sama untuk menyuarakan kegelisahan dan perlawanan, meskipun konteks serta tuntutannya tidak selalu sama,” kata Radius, mengutip laman resmi Umsura, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: Ada Risiko Tersembunyi di Balik Tren Karikatur AI?
Dalam konsep Imagined Communities yang dikemukakan Benedict Anderson, dijelaskan bahwa orang-orang yang tidak saling mengenal dapat membayangkan diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang sama melalui simbol, narasi, dan media.
Menurut Radius, saat simbol tiga jari beredar luas, orang dapat merasa kegelisahan yang mereka alami bukan persoalan individual.
“Ada orang lain yang merasakan dan mempersoalkan hal serupa. Simbol kemudian membentuk perasaan ‘kita’ di antara orang-orang yang bahkan tidak pernah bertemu,” ujarnya.
Media sosial pun mempercepat proses penyebaran dan pembentukan makna simbol ini. Foto, video, dan unggahan ulang membuat salam tiga hari mudah direproduksi dan digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat.
Di saat yang sama, warga dapat menafsirkan ulang maknanya, sesuai dengan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi.
“Dalam perspektif Desain Komunikasi Visual, kesederhanaan dan kemudahan pengenalan membuat simbol tersebut efektif sebagai bahasa komunikasi kolektif,” Radius menjelaskan.
Dalam konteks Indonesia, salam tiga jari dengan slogan “Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan” memperoleh makna lewat berbagai kegelisahan sosial yang disuarakan dalam aksi.
Baca Juga: Greenpeace: Krisis Iklim Gerus Penghasilan dan Daya Beli Pekerja Indonesia
Radius menjelaskan, simbol yang digunakan secara global itu bertemu dengan pengalaman lokal, mulai dari persoalan ekonomi hingga lingkungan dan kebijakan publik.
“Simbol global menjadi bermakna ketika diterjemahkan ke dalam persoalan lokal,” kata Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Umsura tersebut.
Menurutnya, yang penting bukan hanya soal seberapa viral salam tiga jari, tetapi pengalaman sosial apa yang diwakilinya dan apakah simbol itu mampu membangun solidaritas nyata.
Lebih lanjut, Radius menilai fenomena ini memperlihatkan bahwa simbol bukan sekadar gestur atau ekspresi di media sosial, tapi juga bisa menjadi medium pembentukan identitas kolektif yang mempertemukan individu-individu dengan kegelisahan serupa.
Namun, ia mengingatkan bahwa sebuah simbol yang viral tidak serta merta membuktikan adanya koordinasi lintas negara atau solidaritas berkelanjutan.
Menurutnya, makna dan dampak simbol perlu dilihat dari konteks penggunaannya, serta kemampuannya merepresentasikan persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat.



