Tren

WFH 1 Hari Sepekan Dinilai Belum Tentu Efektif Hemat BBM

Ilustrasi WFH. Sumber foto: freepik.comIlustrasi WFH. Sumber foto: freepik.com

TopCareer.id – Pemerintah akan menerapkan Work From Home atau WFH 1 hari dalam sepekan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja swasta, demi menghemat biaya Bahan Bakar Minyak (BBM).

Seperti diketahui, melonjaknya harga minyak dunia terjadi akibat konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Menurut Fahmy Radhi, pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut, sebagai net importer, Indonesia pun ikut terkena dampaknya.

Beberapa dampak yaitu membengkaknya subsidi BBM pada APBN, menyulut kenaikan imported inflation, diperkirakan pada Maret 2026 sekitar 3,07 persen sampai 4,8 persen year-on-year yang menurunkan daya beli rakyat.

Dampak lainnya yaitu melemahkan kurs rupiah yang sempat tembus Rp 17.000 per satu USD.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan WFH 1 Hari dalam Sepekan Usai Lebaran

Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, jika WFH 1 hari diterapkan bagi seluruh ASN dan pekerja swasta secara efektif, penghematan konsumsi BBM diklaim bisa mencapai 20 persen.

“Masalahnya, tidak mudah mengerahkan seluruh ASN dan pekerja swasta untuk memberlakukan WFH-1 secara konsekuen karena menyangkut perubahan perilaku kerja,” kata Fahmy, mengutip keterangan tertulis, Rabu (25/3/2026).

Dia menyebut, ASN dan pekerja swasta bisa saja tidak bekerja dari rumah di hari Jumat, namun Work From Everywhere di tempat wisata sembari menikmati long weekend, sehingga konsumsi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan.

“Saat pandemi Covid-19, WFH cukup berhasil menghemat BBM karena ada variabel paksa agar tidak tertular Covid-19. Sedangkan variabel paksa tidak ada pada WFH-1,”

Menurut Fahmy, tanpa variabel paksa, sangat sulit WFH1 hari sepekan bisa diterapkan secara konsisten.

Baca Juga: Hemat BBM, Prabowo Minta Kaji WFH dan Pangkas Hari Kerja

WFH-1 juga dinilai berpotensi menurunkan pendapatan bagi sektor transportasi, termasuk jasa ojol, warung-warung UMKM yang selama ini menyediakan makan siang bagi ASN, pekerja swasta, dan usaha lainnya.

Selain itu, mewajibkan WFH-1 bagi pekerja swasta yang bekerja di sektor manufaktur juga akan menurunkan produktivitas kerja dan merugikan sektor tersebut.

Untuk itu, Fahmy meminta agar pemerintah mempertimbangkan masak-masak dengan menghitung secara teliti cost and benefit WFH-1.

“Jangan sampai penerapan WFH-1 memberikan manfaat (benefit) penghematan subsidi BBM, tetapi sektor lain yang harus menanggung biayanya (cost),” pungkasnya.

Leave a Reply