8 Juta Lulusan S1 Kerja di Bawah Kualifikasi Pendidikan
TopCareer.id – Sekitar delapan juta lulusan S1 di Indonesia tercatat bekerja di bawah tingkat pendidikannya.
Hal ini diungkap dalam sebuah laporan yang dirilis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).
Dalam laporannya, LPEM FEB UI menulis menurut International Labour Organization (ILO), pekerja disebut overeducated jika tingkat pendidikannya berada di atas rentang pendidikan yang diasosiasikan dengan pekerjaannya. Sebaliknya, pekerja disebut undereducated apabila pendidikannya berada di bawah kebutuhan pekerjaan, dan matched apabila keduanya relatif sesuai.
Penulis riset pun mencatat bahwa lulusan minimal S1 dianggap sesuai apabila bekerja sebagai manajer atau tenaga profesional, yaitu Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia atau KBJI 1 dan KBJI 2. Sementara, lulusan S1 yang bekerja pada KBJI 3 sampai KBJI 9 dikategorikan overeducate. TNI dan Polri tidak masuk karena pekerjaan di dalamnya tidak memiliki satu tingkat keterampilan yang seragam dalam pemetaan satu digit.
Pada tingkat satu digit, KBJI terdiri atas 10 kelompok utama, yaitu:
- Manajer;
- Tenaga Profesional;
- Teknisi dan Tenaga Profesional Madya;
- Tenaga Tata Usaha;
- Tenaga Usaha Jasa dan Penjualan;
- Pekerja Terampil Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
- Pekerja Pengolahan, Kerajinan, dan YBDI;
- Operator dan Perakit Mesin;
- Pekerja Kasar; serta
- Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Baca Juga: BPS Klaim Pengangguran Turun Jadi 7,22 Juta Orang
Penulis laporan menyebut, jika merujuk pada kriteria tersebut, terdapat sekitar 8,01 juta lulusan minimal S1 yang bekerja pada kelompok KBJI 3 hingga KBJI 9. Dua kelompok terbesar yaitu tenaga tata usaha (31 persen) serta tenaga usaha jasa dan penjualan (29 persen).
“Pekerjaan administrasi tersedia di banyak sektor dan kerap menjadi pintu masuk bagi lulusan baru karena persyaratan rekrutmennya relatif luas dan tidak selalu membatasi bidang studi tertentu,” tulis LPEM FEB UI.
Peneliti pun menyebut, besarnya jumlah sarjana di bidang ini bisa dilihat dengan dua cara.
Pertama, hal ini karena sebagian pekerjaan administrasi memang menjadi semakin kompleks karena digitalisasi, pengolahan data, koordinasi, dan penggunaan berbagai perangkat kerja. “Dalam kasus seperti ini, klasifikasi jabatan mungkin belum sepenuhnya menangkap keterampilan yang digunakan,” tulis LPEM FEB UI.
Kemungkinan lainnya adalah terjadinya inflasi kualifikasi, saat gelar S1 semakin sering digunakan sebagai syarat penyaringan meskipun isi pekerjaan tidak banyak berubah.
Menurut LPEM FEB UI, saat jumlah pelamar sarjana meningkat, pemberi kerja bisa menaikkan syarat pendidikan tanpa mengubah tanggung jawab pekerjaan secara drastis. “Dalam keadaan tersebut, gelar sarjana lebih berfungsi untuk membedakan pelamar daripada mencerminkan kebutuhan teknis pekerjaan,” kata mereka.
Baca Juga: Reskilling dan Upskilling Harus Jadi Strategi Atasi Pengangguran pada Generasi Muda
Sementara pada kelompok tenaga usaha jasa dan penjualan, sebagian lulusan diduga masuk ke pekerjaan jasa dan penjualan sebagai tahap awal sambil mencari posisi yang lebih sesuai. Adapun, pekerjaan yang masuk kelompok ini yaitu pekerjaan yang terkait dengan pelanggan, penjualan, pelayanan pribadi, keamanan, serta penyediaan jasa lainnya.
“Sebagian lain dapat bertahan karena pekerjaan tersebut menawarkan pendapatan, komisi, fleksibilitas, atau peluang promosi yang menarik,” tulis peneliti.
Namun, perlu dicatat Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) hanya mencatat pekerjaan pada saat survei, sehingga belum dapat menunjukkan apakah ketidaksesuaian itu hanya sementara atau berlangsung lama.
“Meskipun demikian, ketika hampir tiga dari sepuluh lulusan S1 yang overeducated berada pada pekerjaan jasa dan penjualan, penjelasannya kemungkinan tidak hanya terletak pada pilihan individu,” tulis LPEM FEB UI.
Penulis menyebut ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kesempatan kerja lebih banyak berlangsung pada fungsi pelayanan dan penjualan, ketimbang pada pekerjaan profesional yang benar-benar membutuhkan pendidikan tinggi.



