TopCareer.id – Bagi pencari kerja, career gap atau waktu menganggur yang lama biasanya bisa bikin khawatir, apalagi jika daftar pengalaman kerja tercantum di resume atau CV.
Namun, banyak orang yang mengambil career gap lama untuk berbagai alasan, misalnya karena mengasuh anak, baru lulus, atau merawat anggota keluarga yang sakit.
Untuk itu, ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan apabila ada jeda karier atau career gap yang lama di dalam CV-mu.
- Tetaplah jujur
Menurut Mehreen Khan, penulis resume eksekutif bersertifikat dan pakar HR dan komunikasi, selalu lebih baik untuk bersikap terbuka dan transparan. Ini akan menunjukkan bahwa kamu adalah pekerja yang jujur.
“Pemberi kerja tidak ingin kejutan… Itu menimbulkan pertanyaan ‘Apa lagi yang mungkin Anda sembunyikan?” kata Khan, dikutip dari CBC, Kamis (26/3/2026).
Kamu bisa mencantumkan “Jeda Karier” atau Career Break di bagian pengalaman kerja, dengan penjelasan tentang alasan melakukannya.
“Fokuslah pada pekerjaan yang Anda lakukan selama waktu Anda jauh dari pekerjaan formal,” kata Khan.
Baca Juga: Melamar Kerja ke Banyak Posisi di Satu Perusahaan? Perhatikan Ini
Kamu bisa memasukkan kegiatan sukarela, pekerjaan komunitas, filantropi, atau pelatihan formal seperti kursus jangka pendek.
Nadine Deacon, director of talent acquisition di perusahaan manajemen aset Kanada, Nicola Wealth mengatakan, kamu juga harus menceritakan bagaimana cara untuk menjaga keterampilan selama jeda karier.
“Jika Anda mengisi waktu di tempat lain, Anda harus benar-benar menonjolkan itu di resume untuk menunjukkan kepada pemberi kerja bahwa Anda antusiasi untuk belajar, mengikuti pengetahuan industri, atau bahkan mengembangkan diri,” kata Deacon.
- Tunjukkan keterampilan yang bisa dialihkan
Jeda karier karena mengasuh anak atau merawat keluarga mencerminkan proses belajar dan perkembangan. Peran ini juga melibatkan keterampilan penting seperti manajemen waktu, komunikasi, dan penyelesaian konflik.
“Ini membantu Anda membangun berbagai keterampilan,” kata Khan, menyebutnya sebagai transferable skills.
Menurut Deacon, perekrut mencari kandidat yang tidak hanya memiliki keterampilan spesifik untuk suatu pekerjaan, tetapi juga sifat umum yang diinginkan.
“Sering kali, kami mencari seseorang yang penasaran, yang bisa banyak bertanya untuk memahami bisnis. Seseorang yang memiliki dorongan kuat,” kata Khan.
Selain itu, Deacon juga mengatakan banyak perusahaan sekarang makin terbuka terhadap cuti melahirkan dan jeda karier, bagi mereka yang kembali bekerja setelah mengasuh keluarga.
- Kesan pertama yang sangat penting
Penting untuk tetap mengikuti perkembangan format dan praktik pembuatan CV terbaru. Menurut Khan, kamu bisa mencari tahu tentang template yang kini banyak digunakan. Pastikan kamu mengikuti standar yang berlaku, terutama jika pindah industri.
Khan juga memperingatkan bahwa penggunaan foto, warna, dan grafik yang berlebihan bisa terkesan seperti mencoba menutupi sesuatu, kecuali di industri tertentu seperti desain grafis.
Baca Juga: Tips Aman Cari Kerja di Luar Negeri
Selain aspek visual, Khan menyarankan untuk menyertakan paragraf “Objectives” di bagian atas CV, yang berfungsi sebagai ringkasan diri dalam dua hingga tiga kalimat. Namun, hindari kesalahan umum, yaitu hanya menyebutkan keinginanmu.
“Pemberi kerja tidak ada untuk memenuhi kebutuhan Anda,” katanya. “Fokus pada mengapa Anda adalah pilihan terbaik.”
Sementara menurut Deacon, resume haruslah jelas dan tidak terlalu panjang. Untuk level menengah, dua halaman dianggap ideal, sementara untuk level senior maksimal empat halaman.
- Siapkan eksistensi di platform digital
“Teknologi sangat berperan dalam rekrutmen,” kata Khan. Platform seperti LinkedIn dapat dimanfaatkan untuk menampilkan keterampilan dan pengalaman secara lebih lengkap.
Perbarui juga headline dan bio LinkedIn. Apabila sedang mencari kerja, gunakan fitur “Open to Work” supaya perekrut tahu statusmu.
- Gunakan AI dan ATS dengan bijak
AI seperti ChatGPT bisa membantu membuat CV. Namun, pakar menyarankan untuk tidak sepenuhnya menyalin hasil buatan AI, karena biasanya akan dengan mudah dikenali. Selain itu, AI juga tidak benar-benar memahami pengalamanmu.
AI sebaiknya digunakan untuk membantu memilih bahasa yang lebih profesional atau sebagai bahan brainstorming. Namun, CV dan resume tetap harus dibuat personal.
Baca Juga: 5 Tips Cari Kerja Baru di 2026
Applicant tracking systems (ATS) juga seringkali dipakai untuk memilah pelamar kerja di awal rekrutmen.
Untuk menghindari tersaring ATS, hindari penggunaan template yang terlalu kompleks seperti dari Canva atau Etsy, karena dapat membingungkan sistem. Gunakan kata kunci yang relevan dari deskripsi pekerjaan supaya CV lebih mudah lolos seleksi.
- Tak perlu khawatir soal jeda karier
Deacon mengingatkan bahwa apa yang ditulis di CV dan resume adalah pilihan pribadi. Kamu juga harus merasa nyaman dengan informasi yang dibagikan, karena pembahasan yang lebih mendalam dapat dilakukan saat wawancara.
“Biasanya akan ada dialog yang membantu,” katanya. “Pada akhirnya, hidup terjadi, dan kita semua memahami itu.”






