TopCareer.id – Musim pancaroba harus jadi perhatian masyarakat mengingat ada ancaman kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mengintai di balik kondisi ini.
Situasi ini menegaskan pentingnya meningkatkan kewaspadaan dan edukasi masyarakat agar dapat bertindak cepat dan efektif.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta mencatat, ada 2,5 juta kasus ISPA sepanjang Januari sampai November 2025, yang terjadi karena berbagai faktor risiko salah satunya adalah perubahan cuaca.
Clavelina Astriani, Sr. Medical Affairs Manager Combiphar menyebut bahwa di masa pancaroba, perubahan pola cuaca seperti suhu dan kelembaban dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.
Kondisi ini dapat memengaruhi penyebaran virus serta respons tubuh terhadap infeksi.
Baca Juga: Biar Tak Tumbang, Ini Kiat Lindungi Diri dari Penyakit di Musim Pancaroba
“Infeksi saluran pernapasan dapat berdampak pada kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari, sehingga penanganan yang tepat sejak awal, termasuk pemilihan terapi yang sesuai, menjadi penting,” ujarnya, mengutip siaran pers, Senin (20/4/2026).
Rudy Cahyadi, Wakil Camat Pancoran dalam sebuah acara edukasi kesehatan di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan menyebut, data Puskesmas menunjukkan kunjungan pasien ISPA di Pancoran meningkat sejak awal 2026.
Angkanya mencapai puncaknya atau lebih dari 1.000 kunjungan pada Februari, meskipun tren kini melandai hingga April.
“Ini menjadi pengingat bahwa ISPA masih tantangan kesehatan yang memerlukan upaya pengendalian berkelanjutan,” kata Rudy.
Baca Juga: Tak Cuma ISPA, Ini Penyakit Lain yang Wajib Diwaspadai Saat Musim Hujan
Dia menegaskan, Puskesmas dan lintas sektor aktif harus mencegah ISPA melalui penyuluhan dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selain itu, kolaborasi lintas sektoral yaitu kesehatan, swasta, masyarakat, sangat dibutuhkan.
Sandi Wijaya, GM Marketing Combiphar menambahkan, menjelang musim pancaroba, risiko batuk meningkat signifikan.
“Yang sering luput, batuk bukan sekadar ketidaknyamanan, tetapi juga memiliki biaya tersembunyi, mulai dari terganggunya istirahat, menurunnya fokus, hingga berkurangnya produktivitas,” ujarnya.
Karena itu, jika tidak ditangani dengan tepat, masalah kesehatan seperti batuk tetap bisa berdampak merugikan seseorang. Maka dari itu, pemahaman jenis batuk dan penanganan yang tepat sangatlah penting.






