Edukasi

Terlalu Sering Cari Informasi Pakai AI Bisa Pengaruhi Cara Pikir Remaja

Ilustrasi pelajar menggunakan chatbot AI. (Gambar dibuat dengan AI Gemini)

TopCareer.id – Terlalu sering mencari informasi menggunakan artificial intelligence/AI atau kecerdasan buatan, bisa berdampak kurang baik pada remaja.

Laporan Common Sense Media mencatat, 71 persen orang tua dan 60 persen anak dan remaja percaya bahwa jika generasi muda ini sudah beranjak dewasa, manusia akan sangat bergantung pada AI, khususnya pada alat seperti ChatGPT dan Gemini, sehingga tidak bisa berfungsi tanpa teknologi ini.

Bahkan, remaja usia 12 hingga 17 tahun sudah mulai banyak menggunakan AI dengan 59 persen di antaranya memakainya untuk mencari informasi dan fakta.

Tiffany Zhu, asisten profesor etika global dan teknologi di Old Dominion University menyebut, banyak anak, termasuk dalam kelompok usia yang disurvei, memakai AI untuk membantu mereka belajar di sekolah.

“Banyak yang mengajukan pertanyaan ke AI untuk mendapatkan informasi cepat, alih-alih mengetik di mesin pencari,” kata Zhu, mengutip CNBC Make It, Rabu (29/4/2026).

Meski sebagian konten dari chatbot tidak berbahaya, sebagian lainnya bisa menimbulkan masalah.

Baca Juga: Tak Cuma Batasi Screen Time, Ini Jaga Anak Remaja Tetap Aman di Internet

Michael Robb, kepala riset di Common Sense Media mengatakan, dari sisi algoritma, pengguna tidak memiliki visibilitas yang baik tentang apa saja yang masuk ke large language model. Sehingga, masih ada misinformasi dan bias yang terlihat dalam outputnya.

Zhu mengatakan, jika tidak digunakan dengan hati-hati, chatbot ini “bisa mendorong cara berpikir hitam-putih dan menghambat kemampuan berpikir kritis anak-anak.”

Peneliti dari Dartmouth dan Stanford misalnya, menemukan adanya stereotip terhadap kelompok minoritas tertentu dalam beberapa chatbot. Sementara peneliti di Jepang menemukan pola “halusinasi” atau hasil yang tidak akurat secara fakta, pada berbagai bot.

Perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, dan Google juga telah meneliti dan mengakui bahwa bias serta halusinasi bisa terjadi pada sistem mereka.

Baca Juga: Bos LinkedIn Sebut Skill 5C yang Tak Bisa Digantikan AI

“Saya umumnya berpikir bahwa sebagian besar tanggung jawab seharusnya berada pada perusahaan AI dan pemerintah untuk mengatur serta memperbaiki desain alat AI yang populer,” kata Zhu.

Namun, orang tua yang ingin memastikan anak menggunakan AI secara positif didorong untuk berdiskusi dengan buah hatinya tentang penggunaan teknologi ini.

Robb mengatakan, anak perlu diberi pemahaman bahwa “penting untuk mengecek ulang dan mencoba memahami dari mana informasi itu berasa”, karena chatbot kerap memberikan jawaban yang salah.

Selain, itu banyak chatbot yang memberikan referensi untuk sumber informasi yang mereka gunakan.

Anak pun bisa membuka tautan tersebut untuk melihat apakah sumbernya dapat dipercaya, serta membandingkan informasi itu dengan pencarian lain untuk memastikan kebenarannya.

Leave a Reply