LifestyleTren

Kenali, Bentuk dan Cara Hadapi Pelecehan Seksual di Transportasi Umum

Ilustrasi KRL. (Dok: Kementerian Perhubungan)

TopCareer.id – Pelecehan seksual di transportasi umum belakangan kembali jadi perhatian. Tak cuma perempuan, laki-laki pun bisa jadi korban.

Bagi yang sering bepergian dengan transportasi umum seperti KRL atau bus Transjakarta, tentu saja kasus-kasus yang viral belakangan cukup bikin khawatir.

Seringkali, aksi pelecehan seksual di transportasi umum, baik verbal maupun non-verbal, terjadi tanpa disadari oleh korban. Tak jarang, pelaku masih tak sadar apa yang ia lakukan sudah masuk aksi pelecehan.

Jenis-jenis pelecehan seksual di transportasi umum

Untuk itu, berikut jenis-jenis pelecehan seksual yang kerap terjadi di transportasi umum, seperti dikutip dari laman Smart City Jakarta.

  • Bersiul menggoda

Siulan menggoda sering digunakan untuk mengekspresikan ketertarikan seseorang, namun dengan cara yang tidak pantas.

Meski bagi sebagian orang ini bisa dianggap bercanda, bagi korban tindakan ini bisa sangat mengganggu dan membuat mereka tidak dihargai.

Siulan yang tidak diinginkan bisa memberikan rasa terintimidasi, apalagi jika terjadi berulang kali. Wanita yang sering jadi korban bisa merasa terjebak dan tidak nyaman.

  • Komentar soal tubuh

Komentar tentang penampilan tubuh, apalagi yang terkesan seksual, bisa jadi salah satu bentuk pelecehan verbal yang sering terjadi di transportasi umum.

Salah satu contohnya seperti: “Duh, kamu bikin orang susah konsentrasi deh, dengan pakaian kayak gitu.”

Kalimat seperti ini bisa sangat merendahkan karena tidak hanya mengobjektifikasi tubuh wanita, tetapi juga memberi kesan penampilannya menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan.

  • Komentar seksis

Komentar seksis adalah komentar yang merendahkan atau membatasi seseorang berdasarkan jenis kelamin atau gender mereka.

Komentar semacam ini biasanya mencerminkan pandangan seksis karena mengaitkan nilai atau peran perempuan dengan penampilan fisik dan menempatkan mereka dalam stereotip yang membatasi.

  • Memotret tanpa persetujuan

Mengambil foto atau video orang lain tanpa izin, terutama dengan tujuan seksual, merupakan pelanggaran privasi yang serius.

Di transportasi umum, ini bisa terjadi saat seseorang pura-pura memainkan ponsel, padahal sedang mengarahkan kamera ke arah penumpang lain. Korban mungkin tidak langsung menyadari, namun akan merasa diawasi dan tidak aman.

  • Meraba tubuh orang lain

Meraba tubuh orang lain tanpa persetujuan adalah bentuk pelecehan fisik yang jelas melanggar batas. Dalam kereta yang padat, tangan pelaku secara sengaja tiba-tiba menyentuh bagian tubuh seperti paha atau pinggang.

Pelaku kerap bersembunyi di balik kerumunan. Namun, efeknya bagi korban sangat nyata, seperti cemas, takut, dan merasa kehilangan kendali atas ruang pribadinya.

  • Menggesekkan alat kelamin

Di tengah kereta atau bus yang padat, pelaku aksi ini biasanya berpura-pura terdorong atau terbawa arus penumpang saat transportasi sedang berguncang atau bergoyang.

Namun di momen itu, mereka sengaja menggesekkan alat kelaminnya ke tubuh korban. Ini adalah tindakan pelecehan seksual yang sangat mengganggu dan bisa membuat korban merasa dilecehkan secara fisik maupun emosional.

  • Memperlihatkan tindakan seksual

Seringkali ada orang yang berani melakukan aksi eksplisit seperti masturbasi di tempat umum.

Pelaku biasa melakukannya dengan duduk ataupun berdiri di hadapan perempuan di transportasi umum, lalu mulai melakukan tindakan cabul di balik tas atau jaket.

Walau tidak menyentuh korban secara langsung, tindakan ini bisa menjadi sangat traumatis hingga membuat korban merasa terancam atau ketakutan untuk naik transportasi umum lagi.

Baca Juga: Jakarta Masuk 19 Kota dengan Transportasi Umum Terbaik di Dunia

Yang harus dilakukan jika jadi korban pelecehan seksual

Untuk menjaga diri dan mencegah terjadinya kekerasan seksual, ada beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat.

Preventif

Langkah pencegahan bukan berarti membenarkan aksi pelecehan, namun sebagai bentuk antisipasi dari sistem yang belum sepenuhnya aman.

  • Pilih gerbong khusus perempuan jika tersedia, bagi perempuan,
  • Berdiri di dekat petugas atau penumpang lain yang tampak bisa dipercaya,
  • Simpan call center transportasi umum agar tahu pihak berwenang dalam situasi darurat.

Responsif

Jika menghadapi aksi pelecehan seksual di transportasi umum, percayalah pada instingmu. Rasa tidak nyaman adalah tanda kamu harus segera bertindak.

Jika tubuhmu terasa membeku (freeze) atau menangis itu adalah respons yang wajar dan valid. Setiap orang merespons ancaman dengan cara berbeda, dan tidak ada cara yang salah.

Ada beberapa hal yang bisa segera dilakukan jika pelecehan seksual terjadi di transportasi umum.

  • Segera pindah tempat, cari lokasi yang lebih terang, terbuka, atau ramai
  • Tegur pelaku dengan tegas
  • Dokumentasikan kejadian, catat ciri-ciri pelaku, waktu, lokasi, dan ambil foto sebagai bukti

Rehabilitatif

Jika pelecehan sudah terjadi, penting untuk merawat diri secara emosional maupun mental untuk pemulihan.

Kamu tidak harus langsung merasa “baik-baik saja”, tapi ada beberapa tips kecil yang bisa membantumu untuk bangkit pelan-pelan bangkit.

  • Ceritakan pada orang yang kamu percaya bisa dari teman dekat, keluarga, atau rekan kerja yang suportif.
  • Laporkan secara formal. Ini bukan paksaan, namun kamu jika kamu ingin mengambil langkah hukum atau administratif, kamu bisa melapor ke petugas transportasi umum.
  • Manfaatkan layanan konseling apabila perlu berkonsultasi dengan profesional.

Baca Juga: Turunkan Tarif Bukan Solusi Tunggal Pangkas Ongkos Transportasi

Yang harus dilakukan saat jadi saksi pelecehan seksual

Masyarakat yang jadi saksi pelecehan seksual juga punya peran untuk menciptakan ruang publik yang aman. Untuk itu, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:

Preventif

Langkah-langkah preventif dari orang sekitar bisa memberi rasa aman bagi korban.

  • Amati interaksi mencurigakan seperti orang yang mendekati calon korban tanpa alasan jelas atau mencoba kontak fisik yang tidak diinginkan
  • Waspadai tanda ketidaknyamanan dari orang lain

Responsif

Jika seseorang tiba-tiba menjadi korban pelecehan seksual, ada beberapa hal yang bisa dilakukan saksi.

  • Tanyakan keadaan korban, tawarkan bantuan untuk memberikan korban perasaan diperhatikan, didengarkan, dan tidak sendirian.
  • Alihkan situasi dengan menciptakan distraksi antara pelaku dan korban seperti membuat jarak fisik antara keduanya.
  • Dokumentasikan kejadian.
  • Jika situasinya memungkinkan dan aman, catat detail seperti ciri-ciri pelaku, waktu, dan lokasi kejadian. Ambil foto pelaku pelecehan seksual jika bisa, untuk membantu pelaporan.

Rehabilitatif

Dukungan setelah kejadian sering kali menjadi penentu bagi korban untuk merasa aman, pulih, dan berdaya kembali.

  • Setelah kejadian, korban bisa merasa bingung, takut, atau syok. Ajak dia bicara dengan tenang tanpa menghakimi dan cukup dengarkan.
  • awarkan pendampingan ke layanan bantuan.
  • Jika korban terlihat siap, bantu arahkan ke layanan seperti petugas transportasi umum atau pihak berwenang lainnya.

Leave a Reply