TopCareer.id – Sebuah studi mengungkap wajah seseorang bisa menunjukkan apakah dirinya kaya atau miskin.
“Hubungan antara kesejahteraan dan kelas sosial sudah ditunjukkan oleh penelitian sebelumnya,” kata R. Thora Bjornsdottir, salah satu penulis studi dari University of Toronto, kepada CNBC Make It, dikutip Selasa (19/5/2026).
Dalam studi yang dimuat di Journal of Personality and Social Psychology pada 2017 itu, orang yang memiliki banyak uang secara umum cenderung hidup lebih bahagia dan tidak terlalu cemas dibanding mereka yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Bjornsdottir dan timnya menemukan bahwa “perbedaan kesejahteraan itu ternyata tercermin di wajah seseorang.”
Ia bersama rekan penelitinya, profesor psikologi Nicholas O. Rule, meminta mahasiswa sarjana dari berbagai latar etnis melihat foto hitam putih dari 80 pria kulit putih dan 80 perempuan kulit putih. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki tato atau tindik.
Separuh foto tersebut berasal dari orang dengan penghasilan lebih dari 150 ribu dolar Amerika Serikat (AS) per tahun yang dikategorikan sebagai kelas atas. Sementara separuh lainnya berasal dari orang dengan penghasilan di bawah 35 ribu dolar AS per tahun atau kelas pekerja.
Baca Juga: Kaya Tanpa Harus Ngantor
Saat diminta menebak status sosial orang-orang dalam foto tersebut, peserta yang menjawab benar mencapai 68 persen, jauh lebih tinggi dibanding tebakan acak.
“Saya tidak menyangka efeknya akan sekuat ini, terutama karena perbedaan di wajah mereka sangat halus,” kata Rule. “Itu bagian paling mengejutkan dari penelitian ini bagi saya.”
Bjornsdottir mengatakan orang sebenarnya tidak sadar petunjuk apa yang mereka gunakan saat membuat penilaian tersebut.
“Kalau ditanya alasannya, mereka tidak tahu. Mereka tidak sadar bagaimana bisa melakukan itu,” kata Bjornsdottir.
Untuk melihat lebih jauh, para peneliti memperbesar bagian tertentu pada wajah. Mereka menemukan peserta masih bisa menebak dengan benar hanya dari melihat mata, sementara bagian mulut menjadi petunjuk yang lebih kuat.
Namun, kedua bagian tersebut tetap tidak seakurat saat melihat keseluruhan wajah.
Menurut Bjornsdottir, efek ini “kemungkinan terjadi karena pola emosi yang tertanam di wajah seseorang seiring waktu.”
Kontraksi otot tertentu secara terus-menerus dapat menyebabkan perubahan pada struktur wajah yang bisa ditangkap orang lain, bahkan tanpa mereka sadari.
Baca Juga: Tak Mau Miskin di Hari Tua? Lakukan Ini dari Sekarang!
Saat peneliti menunjukkan foto orang yang tampak jelas sedang bahagia, para peserta tidak mampu menebak status sosial ekonomi mereka dengan lebih akurat dibanding tebakan acak. Peneliti menyebut ekspresi netral diperlukan agar petunjuk halus pada wajah dapat terlihat.
“Perbedaan kesejahteraan ternyata benar-benar tercermin pada wajah seseorang,” kata Bjornsdottir.
“Seiring waktu, wajahmu akan secara permanen mencerminkan dan mengungkap pengalaman hidupmu,” kata Rule kepada University of Toronto. “Bahkan saat kita merasa tidak sedang menunjukkan emosi apa pun, sisa-sisa emosi itu tetap ada.”
Untuk melihat dampaknya di dunia nyata, peneliti kemudian meminta peserta menentukan siapa dalam foto yang kemungkinan besar akan diterima bekerja sebagai akuntan.
Sebagian besar memilih orang dari kelas atas, menunjukkan bagaimana penilaian cepat seperti ini dapat menciptakan sekaligus memperkuat bias sosial.
“Persepsi kelas sosial berdasarkan wajah bisa memiliki dampak lanjutan yang penting,” tulis para peneliti dalam kesimpulan studi tersebut.
“Orang sering membicarakan siklus kemiskinan,” kata Rule, “dan ini mungkin menjadi salah satu faktor yang ikut menyebabkannya.”






