TopCareer.id – Bed rotting atau kebiasaan berdiam lama di tempat tidur atau rebahan sambil scrolling di media sosial atau nonton video semakin sering dilakukan generasi muda.
Yulina Eva Riany, Pakar Pendidikan Anak dan Remaja IPB University mengatakan perilaku ini bukan sekadar bentuk kemalasan belaka, namun sesuatu yang jauh lebih kompleks.
“Fenomena ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks,” ujarnya.
Yulina mengatakan, remaja berada pada fase identity vs role confusion, yaitu tahap pencarian jati diri. Dalam konteks ini, dunia digital menjadi ruang eksplorasi baru.
“Bed rotting tidak selalu bisa dibaca sebagai perilaku pasif. Dalam beberapa kasus, ia bisa menjadi ‘ruang jeda’ sekaligus ‘ruang eksplorasi’ bagi remaja,” kata Yulina, mengutip laman IPB University, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga: 5 Penyakit yang Menghantui Jika Sering Mager, Menurut Dosen UM Surabaya
Namun, paparan yang berlebih terhadap kehidupan ideal di media sosial dapat memicu perbandingan sosial dan kecemasan.
“Bed rotting bisa menjadi semacam pause button psikologis, tetapi juga berpotensi menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan,” imbuh Yulina.
Yulina lebih lanjut menjelaskan, bed rotting berada di wilayah abu-abu antara self-care dan perilaku maladaptif.
Jika dilakukan dengan sadar untuk memulihkan energi, aktivitas tersebut bisa jadi strategi regulasi diri yang sehat. Namun apabila menjadi pelarian dari tekanan, ini malah jadi pola avoidance coping.
“Jika individu masih memiliki kendali, tahu kapan harus berhenti dan mampu kembali beraktivitas, maka ini bisa menjadi bentuk self-care. Namun, ketika kontrol mulai hilang, dampaknya bisa serius,” kata Yulina.
Dalam kondisi tertentu, Yulina mengingatkan bahwa bed rotting bisa menjadi indikasi masalah kesehatan mental seperti burnout, kecemasan berlebih, hingga depresi.
Baca Juga: Studi Ungkap Jenis Video Pendek yang Ampuh Redakan Stres
Adapun, gejala yang perlu diwaspadai antara lain kehilangan minat, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, serta penurunan fungsi dalam akademik atau pekerjaan.
Karena itu, penting untuk memiliki pola istirahat yang sehat.
Yulina mengatakan, istirahat yang sehat buka cuma tidak melakukan apa-apa, namun dilakukan dengan kesadaran, memiliki batas waktu, dan benar-benar memulihkan energi.
Yulina pun menyarankan masyarakat untuk menetapkan batas waktu istirahat, membatasi penggunaan gadget di tempat tidur, serta mengganti istirahat pasif dengan aktivitas ringan seperti jalan santau atau peregangan.
“Self-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita,” pungkasnya.






