TopCareer.id – Kebiasaan menimbun data seperti file foto lama, chat, atau screenshot yang sudah tidak lagi dibutuhkan secara berlebihan atau digital hoarding, bisa berdampak pada kesehatan mental.
Agung Minto Wahyu, Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University menjelaskan, digital hoarding bukan hanya soal jumlah file yang tersimpan, tapi juga terkait hubungan psikologis seseorang terhadap data digital yang dimilikinya.
“Masalahnya bukan pada jumlah file yang kita miliki, tetapi pada seberapa besar kendali yang kita rasakan atas data digital kita sendiri,” kata Agung, seperti dikutip dari laman resmi IPB University, Kamis (9/7/2026).
Agung mengatakan, menyimpan foto kenangan, mengunduh artikel untuk dibaca kemudian, atau menyimpan dokumen tertentu masih merupakan hal yang wajar.
Namun, seseorang harus mulai waspada jika dirinya tidak sanggup menghapus file yang sudah tidak berguna, sampai mengganggu produktivitas dan kesehariannya.
Agung menyebut, digital hoarding terjadi ketika seseorang terus-menerus menyimpan file digital hingga tidak lagi mampu membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang sebenarnya sudah tidak diperlukan.
Baca Juga: Temuan CKG: Ratusan Ribu Anak Indonesia Bergejala Cemas dan Depresi
“Akibatnya, alih-alih memberikan rasa aman, tumpukan data justru memunculkan stres dan perasaan kewalahan,” kata Agung.
Ia menjelaskan, ada beberapa faktor psikologis yang membuat seseorang sulit menghapus data digital, salah satunya yaitu mentalitas “siapa tahu berguna nanti.”
Selain itu, ada kelekatan emosional terhadap foto, chat, atau rekaman yang menjadi representasi kenangan dan identitas diri. Tidak sedikit orang yang menyimpan email, screenshot, atau percakapan sebagai bukti pekerjaan maupun komunikasi.
Di sisi lain, proses menyortir ribuan file membutuhkan energi mental yang besar sehingga sering ditunda.
Ditambah, layanan penyimpanan digital yang makin murah dan mudah diakses menciptakan ilusi ruang tanpa batas, sehingga tidak ada dorongan untuk segera membersihkan data.
Agung menambahkan, digital hoarding terkait dengan kecemasan (anxiety), fear of missing out (FOMO), serta kebutuhan untuk merasa aman melalui kepemilikan informasi.
“Seseorang merasa cemas kalau tidak menyimpan, tetapi juga merasa kewalahan karena terlalu banyak menyimpan. Di sinilah muncul lingkaran psikologis yang sulit diputus,” kata Agung.
Baca Juga: Awas Ketipu Kurir Palsu Saat Belanja Online, Ini Cara Menghadapinya
Digital hoarding juga bisa berujung pada menurunnya produktivitas. Tumpukan data yang tidak terorganisir membuat seseorang akan menghabiskan banyak waktu, hanya untuk mencari file yang dibutuhkan.
Kondisi ini juga meningkatkan risiko information overload, yaitu kondisi saat terlalu banyak informasi justru menyulitkan seseorang menentukan mana yang benar-benar relevan.
Untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, Agung menyarankan agar masyarakat mulai membangun membangun kesadaran mengenai alasan menyimpan suatu file.
Luangkan waktu sekitar 10 sampai 15 menit setiap minggu untuk menyortir data, membuat kriteria sederhana sebelum menyimpan file, serta belajar membedakan antara kenangan yang benar-benar bermakna dan file yang hanya tersimpan karena rasa cemas.
“Kekuatan sebuah kenangan tidak ditentukan oleh apakah file-nya masih ada di ponsel kita atau tidak,” kata Agung.
“Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang lebih sadar dengan informasi digital kita tahu apa yang kita simpan, mengapa kita menyimpannya, dan berani melepaskan apa yang sudah tidak lagi kita butuhkan,” pungkasnya.






