TopCareer.id – Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei.
Adapun, Hardiknas 2026 jatuh pada Sabtu (2/5/2026). Dalam peringatan tahun ini, pemerintah pun menetapkan tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”
Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei, bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang dijuluki sebagai bapak pendidikan nasional di tanah air.
Penetapan 2 Mei sebagai Hardiknas tercantum dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 tahun 1959 meski bukan menjadi hari libur nasional.
Dilansir berbagai sumber, Hari Pendidikan Nasional sempat diperingati pada tanggal 28 Juli. Namun, tanggalnya lalu diubah supaya sesuai dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara.
Baca Juga: Profil Ki Hadjar Dewantara, Tokoh Penting di Balik Penetapan Hardiknas 2 Mei
Ki Hadjar Dewantara adalah pejuang pendidikan yang memperjuangkan hak belajar bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang status sosial.
Semboyannya yang terkenal adalah “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.”
“Ing ngarsa sung tulada” berarti Memberi teladan di depan; “Ing madya mangun karsa” berarti Membangun semangat di tengah; dan “Tut wuri handayani” berarti Memberikan dorongan di belakang.
Tiga prinsip tersebut berarti pendidik tak hanya merupakan seorang pengajar, tapi juga menjadi teladan dan motivator bagi siswa.
Ki Hadjar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Dia merupakan cucu dari Sri Paku Alam III dan anak dari GPH Soerjaningrat.
Usai diasingkan karena tulisan-tulisannya yang mengkritik tajam pemerintahan kolonial Belanda, dia mendirikan National Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Taman Siswa) di tahun 1922.
Baca Juga: Akses Pendidikan Masih Jadi Tantangan, Inisiatif Digital Tumbuh di Daerah
Lembaga tersebut memberikan pendidikan bagi rakyat pribumi, yang saat itu tidak memiliki akses yang sama dengan kaum bangsawan atau Belanda.
Pendidikan di Taman Siswa berbeda dari sistem kolonial. Pendidikan di sana berbasis pada semangat kebangsaan dan kebebasan berpendapat.
Tujuannya adalah untuk membentuk generasi yang cinta tanah air dan siap memperjuangkan kemerdekaan.
Pada tahun 1950, Ki Hadjar Dewantara menjadi menteri pendidikan pertama di Indonesia.
Universitas Gadjah Mada (UGM) menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa pada tahun 1959. Di tahun yang sama, dia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional.






