Tren

Berkat AI, Startup 1 Orang Jadi Tren di China

Ilustrasi startup. (konkapo dari Pixabay)

TopCareer.id – Sejumlah kota di China mulai menawarkan apartemen gratis hingga mengubah pusat data yang tak terpakai menjadi inkubator bisnis, demi menarik “one-person companies” (OPC).

OPC merupakan startup yang dijalankan oleh satu orang, dengan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Kemajuan alat otomatisasi AI seperti agen vibe-coding dan generator video kini memungkinkan individu membangun produk teknologi sendiri, tanpa perlu pendanaan besar atau karyawan.

Hal ini juga sejalan dengan dorongan Tiongkok untuk mengembangkan industri AI.

Pemerintah daerah pun dalam beberapa bulan terakhir mulai memberikan berbagai insentif seperti ruang kantor gratis, diskon komputasi, hingga pinjaman khusus untuk membangun aplikasi AI.

Dilansir Rest of World, dikutip Rabu (8/4/2026), tren OPC mulai menyebar sejak November 2025, saat Suzhou, pusat manufaktur teknologi tinggi, berkomitmen menjadi tujuan utama para solopreneur AI.

Wilayah tersebut pun mencoba untuk membangun 30 “komunitas OPC” dan menargetkan 1.000 perusahaan satu orang pada 2028.

Wilayah lain pun ikut bergerak. Distrik Pudong di Shanghai menawarkan subsidi biaya komputasi hingga 300.000 yuan, sementara Wuhan menyediakan pinjaman khusus bagi solopreneur AI dan siap menanggung sebagian kerugian jika terjadi gagal bayar.

Baca Juga: Perusahaan China Ini Izinkan Karyawan Cuti 10 Hari Kalau Lagi Tidak ‘Happy’

China memang dikenal kerap mendorong industri baru melalui kombinasi kebijakan pusat dan kompetisi antar daerah, seperti yang pernah terjadi pada sektor e-commerce dan kendaraan listrik.

Dalam pertemuan parlemen tahunan bulan ini, pemerintah kembali menegaskan rencana memperluas adopsi AI di seluruh sektor ekonomi.

“China seperti Silicon Valley raksasa,” kata Lin Zhang, profesor asosiasi di University of New Hampshire, yang meneliti ekonomi digital China.

“Saat teknologi baru muncul, seluruh sistem birokrasi akan digerakkan untuk mengembangkannya,” ujarnya.

Berbeda dengan Silicon Valley yang didorong modal ventura, China lebih mengandalkan kebijakan pemerintah dan pendanaan publik untuk mempercepat adopsi AI.

Pemerintah menyediakan dana investasi, infrastruktur data, hingga menjadi pengguna awal produk AI dalam negeri.

Untuk mempercepat adopsi, beberapa pemerintah distrik juga mensubsidi penggunaan OpenClaw, agen AI open-source yang sedang viral dan mampu mengelola email hingga membangun situs web.

Baca Juga: Yang Harus Kamu Pertimbangkan Saat Hendak Kerja di Startup Baru

Insentif OPC ini disalurkan melalui inkubator khusus yang kini bermunculan di berbagai wilayah.

Syarat untuk menjadi OPC sendiri cukup fleksibel. Beberapa inkubator bahkan memasukkan perusahaan dengan dua hingga tiga orang sebagai bagian dari kategori ini.

Duke Wang, co-founder akselerator startup di Hangzhou, I Have a Demo, menggandeng pemerintah distrik untuk mengelola inkubator OPC di ruang kerja milik negara.

Inkubator tersebut telah menerima enam startup yang mengembangkan aplikasi AI seperti cincin dan gelang pintar.

Selain menyediakan ruang kerja gratis, inkubator juga membantu startup berkolaborasi serta menghubungkan mereka dengan klien dan pemasok.

“Masih terlalu sedikit talenta AI di China. Kita perlu membuat semua orang mulai bergerak,” kata Duke Wang.

Sementara di Shenzhen, sebuah inkubator di distrik Luohu menargetkan mampu mendukung lebih dari 50 startup. Mereka aktif mengundang para founder untuk mengembangkan aplikasi bagi perusahaan perdagangan dan manufaktur besar, demi mempercepat adopsi AI.

Baca Juga: Alasan Mengapa Startup Bisa Gagal

Dalam beberapa kasus, dorongan ini juga menjadi cara pemerintah daerah memanfaatkan gedung dan pusat data yang selama ini menganggur akibat kelebihan pembangunan infrastruktur digital.

Walau prospeknya masih belum pasti dan banyak dinilai investor sebagian besar perusahaan rintisan tidak akan bertahan, insentif pemerintah tetap mendorong munculnya gelombang baru wirausaha berbasis AI.

Fenomena ini juga menarik pekerja teknologi yang terdampak PHK dan khawatir tergantikan AI. Salah satunya adalah Ma Ruipeng, yang meninggalkan kariernya sebagai programmer selama dua dekade demi membangun software AI sendiri.

Ruipeng bekerja dari apartemennya di Beijing, di mana ia bekerja dengan berbagai alat AI seperti Claude Code dan Figma. Dia juga memakai OpenClaw dan menamai agennya “Big House.”

Meski belum menghasilkan uang dan masih mengandalkan tabungan, ia tetap optimistis. “Selama saya bekerja bersama AI, saya tidak akan tergantikan olehnya. AI adalah peluang besar bagi saya,” ujarnya.

Leave a Reply