Di Luar Kantor dan Rumah, ke Mana Pekerja Jakarta Bisa Berkumpul?

TopCareer.id – Bagi banyak pekerja profesional di Jakarta, kehidupan sehari-hari berlangsung di antara rumah, kantor, dan perjalanan yang menyita waktu. Setelah seharian bekerja, pilihan untuk menghabiskan waktu di luar rumah sering kali mengarah ke kafe atau pusat perbelanjaan. Namun, untuk sekadar duduk, berbincang, atau bertemu teman, orang kerap dihadapkan pada satu konsekuensi: harus mengeluarkan uang.
Persoalannya bukan semata-mata harga kopi atau makanan yang harus dibayar. Di tengah kehidupan kota yang semakin mahal, keterbatasan tempat berkumpul yang terjangkau juga menyangkut kesempatan membangun hubungan sosial di luar lingkungan pekerjaan.
Seorang pekerja mungkin menghabiskan delapan jam atau lebih di kantor, bertemu banyak orang, dan terlibat dalam berbagai percakapan profesional. Namun, interaksi tersebut tidak selalu memberinya kesempatan untuk membangun relasi sosial yang lebih luas. Setelah meninggalkan kantor, ruang untuk bertemu orang lain tanpa agenda pekerjaan justru menjadi kebutuhan tersendiri.
Baca Juga: Revitalisasi Blok M, Transjakarta Dipastikan Tetap Beroperasi
Persoalan ini mengemuka dalam diskusi seri pertama Imagine Jakarta: Membayangkan Kota Masa Depan bertajuk “Menagih Jakarta yang Ramah sebagai Hak Warga atas Ruang Publik”, yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara (IKAD) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jakarta di Gedung Miss Tjitjih, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026).
Diskusi tersebut mempertemukan akademisi, seniman, praktisi, dan perwakilan pemerintah untuk membicarakan ruang publik sebagai bagian penting dari kehidupan bersama. Salah satu persoalan yang diangkat adalah semakin terbatasnya ruang bagi warga untuk berkumpul, berkegiatan, dan berinteraksi tanpa harus terikat pada aktivitas konsumsi.
Bagi pekerja profesional Jakarta, persoalan itu relevan dengan cara kehidupan perkotaan dijalani sehari-hari.
Ketika Kehidupan Sosial Bergantung pada Daya Beli
Kafe dan pusat perbelanjaan menjadi pilihan populer untuk menghabiskan waktu di luar rumah. Tempat-tempat tersebut menawarkan kenyamanan dan kemudahan akses, tetapi aktivitas di dalamnya umumnya berkaitan dengan konsumsi.
Akibatnya, pertemuan informal dengan teman, diskusi komunitas, atau kegiatan bersama dapat memerlukan biaya yang tidak sedikit jika dilakukan secara rutin.
Dalam diskusi tersebut, aktivis Malaka Project sekaligus YouTuber Cania Citta menyoroti kesulitan komunitas muda mendapatkan tempat untuk menyelenggarakan kegiatan. Ia mengungkapkan bahwa penyelenggaraan acara tertentu dapat membutuhkan anggaran puluhan juta rupiah, sementara pilihan tempat yang memadai dan terjangkau masih terbatas.
Biaya tempat, menurut persoalan yang dibahas dalam forum itu, dapat menyerap anggaran yang semestinya digunakan untuk program, pengembangan komunitas, atau produksi karya.
Baca Juga: M Bloc Space Tampil dengan Wajah Baru
Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut komunitas anak muda. Bagi pekerja profesional yang ingin mengembangkan kegiatan di luar pekerjaan, seperti kelompok diskusi, komunitas literasi, kegiatan seni, atau pertemuan sosial, keterjangkauan ruang turut menentukan apakah kegiatan itu dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Ketika setiap pertemuan membutuhkan pengeluaran, kegiatan sosial berpotensi menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan berdasarkan kemampuan ekonomi.
Padahal, kehidupan di kota tidak semestinya hanya berputar pada produktivitas kerja dan konsumsi. Warga juga membutuhkan kesempatan untuk membangun persahabatan, bertukar gagasan, mengenal lingkungan, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.



