Tren

Di Luar Kantor dan Rumah, ke Mana Pekerja Jakarta Bisa Berkumpul?

Rumah, Kantor, dan Hilangnya Ruang Ketiga

Pengajar filsafat di Universitas Pelita Harapan, Fransisco Budi Hardiman, yang akrab disapa Franky, menjelaskan bahwa modernisasi telah mengubah pola kehidupan masyarakat. Kehidupan yang sebelumnya lebih komunal bergerak menuju masyarakat perkotaan yang semakin majemuk, kompleks, dan anonim.

Di Jakarta, orang dapat tinggal berdekatan tanpa saling mengenal. Pekerja dapat bertemu setiap hari dengan rekan-rekannya di kantor, tetapi belum tentu memiliki hubungan sosial di luar kepentingan profesional.

Franky mengangkat konsep third place atau tempat ketiga, yakni ruang di luar rumah sebagai tempat pertama dan kantor sebagai tempat kedua. Ruang ini memungkinkan orang bertemu dan berinteraksi secara informal dalam hubungan yang relatif setara.

Perpustakaan, taman, pasar tradisional, tempat pertunjukan, dan ruang komunitas dapat menjalankan fungsi tersebut apabila benar-benar terbuka bagi masyarakat dan tidak mengharuskan pengunjung selalu melakukan konsumsi.

Baca Juga: Bukan Gaya Hidup, Tren Downgrading Bisa Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Bagi pekerja profesional, keberadaan tempat ketiga dapat membuka kesempatan untuk menjalani kehidupan di luar rutinitas pekerjaan. Seseorang dapat datang ke perpustakaan untuk membaca, mengikuti diskusi di ruang komunitas, berpartisipasi dalam kegiatan seni, atau sekadar berbincang dengan orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda.

Pertemuan seperti itu juga memungkinkan seseorang keluar dari lingkaran sosial yang terbentuk berdasarkan profesi, jabatan, atau tempat kerja.

Franky menekankan pentingnya memulihkan solidaritas dan rasa komunitas tanpa harus menolak modernisasi. Tantangannya, menurut dia, adalah memperbaiki luka-luka sosial yang muncul selama proses perubahan kota.

Gagasan tersebut mengingatkan bahwa kemajuan kota tidak cukup diukur melalui pembangunan gedung, pusat bisnis, dan infrastruktur. Kota juga perlu menyediakan ruang yang memungkinkan warganya membangun hubungan sosial.

Bukan Hanya Soal Tempat, tetapi Juga Waktu

Keterbatasan ruang publik berkaitan pula dengan cara pekerja menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam diskusi yang sama, arsitek dan peneliti kota serta gender Lathiyfah Shanti Purnamasari, yang akrab disapa Luna, menyoroti bagaimana mahalnya hunian dan jarak yang semakin jauh dari tempat kerja dapat mengurangi waktu yang tersedia untuk membangun hubungan sosial.

Perjalanan panjang menuju kantor menyita waktu dan energi. Setelah menyelesaikan pekerjaan dan menempuh perjalanan pulang, kesempatan untuk mengikuti kegiatan komunitas, bertemu teman, atau berinteraksi dengan warga sekitar menjadi lebih terbatas.

Dalam situasi seperti itu, keberadaan ruang publik yang mudah dijangkau menjadi penting. Ruang yang dekat dengan tempat tinggal, terhubung dengan transportasi umum, dan tidak membebani pengunjung dengan biaya tinggi dapat memberi kesempatan bagi warga untuk berinteraksi tanpa harus merencanakan kegiatan yang rumit.

Baca Juga: Anak Muda RI Rentan Menganggur, Ini Kata Pakar UGM

Namun, keberadaan fasilitas fisik saja tidak cukup.

Luna menjelaskan bahwa ruang memperoleh makna melalui aktivitas, pengalaman, dan ikatan emosional orang-orang yang menggunakannya. Sebuah taman, misalnya, tidak otomatis menjadi ruang sosial yang hidup hanya karena dibangun dengan desain yang baik.

Ruang tersebut perlu memungkinkan warga membangun kebiasaan, menjalin hubungan, dan mengembangkan rasa memiliki.

Bagi pekerja profesional, hal ini berarti kota perlu menyediakan lebih dari sekadar tempat untuk singgah. Kota membutuhkan ruang yang memungkinkan orang merasa menjadi bagian dari lingkungan tempat mereka tinggal dan bekerja.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Banner Loker

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button