TopCareer.id – Eropa sedang dilanda gelombang panas. Prancis bahkan mengumumkan jumlah meninggal dunia akibat masalah ini sudah mencapai sekitar 1.000 orang sejak 24 Juni 2026, dengan 5 persen di antaranya adalah lansia.
Menurut AccuWeather,semakin banyak negara menghadapi suhu yang memecahkan rekor, karena pusat gelombang panas bergeser ke wilayah Eropa Timur.
Met Office Inggris melaporkan lebih dari 150 stasiun cuaca mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Juni. Sementara MeteoSwiss menyebut 19 stasiun cuaca di Swiss mencetak rekor suhu tertinggi pada Sabtu.
Met Office menyatakan bahwa suhu 37,7 derajat Celsius yang tercatat di Lingwood, Norfolk, pada Jumat, menjadi hari terpanas yang pernah tercatat di Inggris untuk bulan Juni.
Sementara Anadolu English melaporkan, Polandia mencatatkan suhu tertinggi sepanjang sejarah hingga 40,5 derajat Celsius pada hari Minggu, seperti dikutip dari situs AccuWeather.
Ahli meteorologi AccuWeather, Jason Nicholls, mengatakan gelombang panas ini tergolong “bersejarah: karena suhu maksimum normal di Paris dan Frankfurt umumnya hanya berada di kisaran 20 hingga 23 derajat Celsius.
Namun, kedua kota tersebut mengalami sekitar 10 hari dengan suhu 10 sampai 17 derajat Celsius di atas normal.
Dikutip dari Reuters, sejumlah negara Eropa pun telah menerapkan aturan kerja di tengah panas ekstrem.
Belgia
Belgia menerapkan aturan terkait suhu di tempat kerja berdasarkan indeks tekanan panas Wet Bulb Globe Temperature (WBGT).
Di situ diterapkan 29 derajat Celsius untuk pekerjaan kantor atau pekerjaan ringan, 26 derajat Celsius untuk pekerjaan dengan aktivitas fisik sedang, 22 derajat Celsius untuk pekerjaan berat, dan 18 derajat Celsius untuk pekerjaan yang sangat berat.
Jika suhu melebihi batas tersebut, pemberi kerja wajib melakukan upaya seperti menyediakan pendingin ruangan atau ventilasi, memberikan waktu istirahat tambahan, serta menyediakan minuman bagi pekerja.
Prancis
Prancis tidak menetapkan batas suhu maksimum yang secara otomatis mengharuskan pekerjaan dihentikan. Namun, Kode Ketenagakerjaan Prancis mewajibkan pemberi kerja menjaga suhu kerja yang layak serta menjamin kesehatan dan keselamatan pekerja.
Meski tidak ada batas suhu resmi, Institut Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja menyatakan, risiko kesehatan meningkat saat suhu lingkungan melebihi 30 derajat Celsius untuk pekerjaan yang banyak dilakukan sambil duduk dan 28 derajat Celsius untuk pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik.
Baca Juga: 5 Destinasi di Eropa Ini Paling Diminati Wisatawan Indonesia
Jerman
Jerman memberikan keleluasaan yang cukup besar kepada pemberi kerja dalam mengatur kondisi kerja saat cuaca panas. Tidak ada kewajiban hukum yang menetapkan suhu maksimum di tempat kerja.
Namun, menurut Institut Federal Keselamatan dan Kesehatan Kerja, perusahaan tetap harus mengambil langkah untuk mengurangi dampak panas dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti kelembapan udara, tingkat aktivitas fisik, waktu istirahat, serta pakaian kerja.
Jika suhu di tempat kerja tembus 30 derajat Celsius, perusahaan dapat mengambil langkah seperti menutup tirai untuk mengurangi panas matahari, mengoptimalkan ventilasi pada pagi hari, menyediakan kipas angin, hingga memulai jam kerja lebih awal.
Jika suhu mencapai lebih dari 35 derajat Celsius, diberlakukan aturan yang lebih ketat seperti memberikan waktu istirahat di ruangan yang lebih sejuk atau menyediakan pakaian pelindung panas, seperti di industri baja.
Italia
Italia tidak memiliki aturan nasional yang mewajibkan pekerjaan dihentikan saat suhu melampaui angka tertentu.
Namun, negara ini menerapkan kombinasi protokol risiko panas, peraturan daerah, serta skema bantuan pendapatan ketika pekerjaan dihentikan.
Peraturan di berbagai wilayah mengatur penghentian sementara pekerjaan outdoor pada pukul 12.30 hingga 16.00, jika prakiraan cuaca menunjukkan tingkat risiko tinggi bagi pekerja yang terpapar sinar matahari dan melakukan aktivitas fisik berat.
Pada 2025, 18 dari 20 wilayah di Italia menerapkan aturan tersebut dan berdampak pada lebih dari 2,3 juta pekerja.
Tidak ada batas suhu nasional yang berlaku sebagai pemicu penghentian kerja.
Namun suhu 35 derajat Celsius, baik suhu aktual maupun suhu yang dirasakan (heat index), umumnya dijadikan acuan. Pekerja juga dapat memperoleh bantuan upah dari pemerintah jika pekerjaan dihentikan atau dikurangi akibat gelombang panas.
Polandia
Aturan kerja saat cuaca panas di Polandia menggabungkan kewajiban keselamatan umum dengan langkah-langkah mitigasi tertentu.
Pemberi kerja diwajibkan menyediakan air minum atau minuman lainnya, area istirahat yang sejuk atau berpendingin udara. waktu istirahat tambahan, serta perlindungan dari paparan sinar matahari langsung.
Perusahaan juga dapat memperpendek jam kerja, menerapkan sistem rotasi pekerja, hingga membebaskan pekerja dari tugasnya dalam kondisi yang sangat ekstrem.
Pekerja juga berhak menghentikan pekerjaan apabila kondisi kerja mengancam kesehatan atau keselamatan mereka secara langsung, tanpa kehilangan hak atas upah.
Selain itu, perusahaan wajib menyediakan minuman gratis ketika suhu mencapai sekitar 28 derajat Celsius di dalam ruangan dan 25 derajat Celsius di luar ruangan.
Perlindungan tambahan juga berlaku di lingkungan industri dengan suhu tinggi, termasuk penyediaan ruang istirahat berpendingin apabila suhu di dalam ruangan melebihi 30 derajat Celsius akibat proses produksi.
Portugal
Portugal tidak menetapkan batas suhu yang secara hukum mengharuskan penghentian pekerjaan.
Namun, peraturan mengharuskan pemberi kerja menjaga suhu tempat kerja, jika memungkinkan, berada pada kisaran 18 derajat hingga maksimal 25 derajat Celsius.
Jika pekerja terpapar suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akibat kondisi tempat kerja, perusahaan wajib mengambil langkah perbaikan. Dalam situasi tertentu, pekerja juga harus mendapat waktu istirahat tambahan atau pengurangan jam kerja.
Spanyol
Kementerian Ketenagakerjaan Spanyol menyatakan pekerja berhak menyesuaikan kondisi kerja ketika terdapat peringatan cuaca ekstrem.
Saat peringatan cuaca berstatus oranye atau merah, pekerja dapat mengurangi atau mengubah jam kerja mereka. Ambang batas untuk penerbitan peringatan tersebut berbeda di setiap wilayah sesuai kondisi setempat.
Pekerja yang tidak bisa berada di tempat kerja karena cuaca ekstrem berhak memperoleh cuti berbayar hingga empat hari. Jika dibutuhkan waktu libur yang lebih lama, perusahaan dapat menggunakan skema pemutusan hubungan kerja sementara karena force majeure.
Baca Juga: Alasan Suhu Panas Bikin Orang Cepat Naik Darah
Kata WHO soal gelombang panas di Eropa
Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pun juga menyoroti dampak gelombang panas ini.
Menurutnya, gelombang panas sebelumnya dianggap sebagai “sekali dalam satu generasi”, tetapi kini terjadi hampir setiap tahun akibat perubahan iklim dan pemanasan global.
Di platform X, ia juga menyebut Eropa sebagai benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan laju dua kali lipat rata-rata global.
“Saat ini, 150 juta orang hidup di bawah kondisi panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal dunia, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik mulai kewalahan,” tulisnya.
Tedros juga mengatakan, stres akibat panas (heat stress) sering dijuluki sebagai “silent killer” atau pembunuh senyap, karena dampaknya dapat mematikan tanpa disadari.
Ia menambahkan bahwa banyak rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa belum dirancang untuk menghadapi suhu setinggi ini.






