EdukasiTren

Gelombang Panas Melanda Eropa, Bisa Terjadi di Indonesia?

Ilustrasi Juli jadi bulan terpanas sepanjang sejarahIlustrasi gelombang panas (Pexels)

TopCareer.idGelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa jadi sorotan dunia.

Banyak masyarakat mempertanyakan mengapa negara-negara di Eropa dilanda fenomena tersebut, serta apakah hal serupa bisa terjadi di Indonesia.

Sonni Setiawan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University mengatakan, gelombang panas di Eropa tak hanya disebabkan satu faktor saja.

“Fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah, di mana Eropa berada pada zona wilayah ini,” kata Sonni.

Dia menjelaskan, dikutip dari laman resmi IPB University, Sabtu (4/7/2026), gelombang Rossby merupakan gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, angin, dan suhu di wilayah lintang menengah.

Baca Juga: Gelombang Panas, Bagaimana Dunia Kerja Eropa Menghadapinya?

Gelombang ini memiliki panjang sekitar 4.000 hingga 6.000 kilometer dan terbentuk saat angin baratan melintasi pegunungan besar, seperti Pegunungan Rocky di Amerika Utara dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan.

Sonni mengatakan, saat musim panas di belahan bumi utara, posisi matahari menyebabkan daratan mengalami pemanasan maksimum.

Karena daratan memiliki kapasitas menyimpan panas yang lebih rendah dibandingkan lautan, suhu udara di atasnya meningkat lebih cepat.

“Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas,” kata Sonni.

Baca Juga: Alasan Suhu Panas Bikin Orang Cepat Naik Darah

Kondisi ini semakin diperparah oleh melemahnya aktivitas gelombang Rossby pada musim panas. Pergerakan gelombang yang lebih lambat membuat massa udara panas bertahan lebih lama di suatu wilayah.

Situasi ini diperkuat oleh fenomena Omega Block, yakni pola tekanan tinggi yang menjebak udara panas sehingga suhu ekstrem dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan lebih lama.

Terkait apakah peningkatan frekuensi gelombang panas menjadi bukti langsung perubahan iklim, Sonni mengatakan masih perlu kajian ilmiah soal ini, dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer alami.

“Dinamika atmosfer alami tetap harus menjadi bagian penting dalam analisis sebelum menyimpulkan pengaruh perubahan iklim terhadap suatu kejadian panas ekstrem,” kata Sonni.

Bisa terjadi di Indonesia?

Terkait apakah ada potensi fenomena serupa di Indonesia, Sonni menjelaskan fenomena ini memiliki hubungan dengan sistem iklim global lewat mekanisme telekoneksi, yaitu keterkaitan antarkawasan yang dipengaruhi oleh sirkulasi atmosfer berskala besar.

“Ada kaitannya walaupun tidak secara langsung, misalnya melalui telekoneksi antara Madden-Julian Oscillation (MJO) dengan sirkulasi atmosfer di wilayah ekstratropis,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Indonesia sesungguhnya punya potensi mengalami peningkatan kejadian suhu panas di masa mendatang. Namun, karakteristiknya akan berbeda dengan gelombang panas Eropa.

Di Indonesia, suhu panas ekstrem lebih banyak dipicu oleh perubahan penggunaan lahan dan efek urban heat island yang umum terjadi di kawasan perkotaan.

Baca Juga: Hal yang Bisa Dilakukan Agar Tetap Sehat Saat Cuaca Panas Terik

“Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa. Faktor yang lebih dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar,” Sonni mengungkapkan.

Untuk ini, pemerintah dan masyarakat pun didorong untuk memperkuat upaya penghijauan lewat reboisasi, penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan.

Langkah ini penting untuk mengurangi peningkatan suhu permukaan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.

“Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fungsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan,” pungkasnya.

Leave a Reply