Edukasi

Saat AI Jadi Harapan Baru Pelestarian Aksara Tradisional

Teknologi AI NusaAKsara digunakan dalam upaya pelestarian bahasa daerah dan aksara tradisional Indonesia.

TopCareer.id – Meski memiliki beragam bahasa daerah dan aksara tradisional, Indonesia masih memiliki tantangan dalam pelestariannya.

Untuk itu, sebuah proyek riset yang melibatkan peneliti dari Monash University, Indonesia dan tim peneliti internasional dari MBZUAI  memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) NusaAKsara untuk menjawab tantangan tersebut.

Menurut para peneliti, aksara tradisional bukan sekadar alat komunikasi di Indonesia. Aksara adalah wadah identitas yang menyimpan kearifan dan catatan terperinci mengenai sejarah, pengobatan, perniagaan, dan hukum dari berabad-abad silam.

Namun, seiring tuntutan romanisasi di ruang digital, aksara-aksara ini semakin terabaikan. Ini membuat generasi muda tidak lagi mampu membaca sejarah mereka sendiri, bahkan memandang warisan luhur budaya mereka sebagai sesuatu yang “asing.”

“Di berbagai belahan dunia, banyak komunitas berhasil membangkitkan bahasa-bahasa yang sempat ‘tertidur’ atau meningkatkan keberadaan aksara tradisional melalui perpaduan semangat akar rumput dan dukungan institusi,” kata pimpinan tim peneliti, Associate Professor Derry Wijaya.

Mengutip siaran pers, Jumat (3/7/2026), Derry pun mengatakan AI punya potensi untuk menjadi bagian dari solusi teknologi ini.

“Tetapi membutuhkan pelatihan yang terarah untuk mengatasi dampak negatif yang melekat pada kondisi yang ada saat ini,” ujarnya.

Derry pun merujuk pada bagaimana upaya pelestarian bahasa Maori yang nyaris punah.

Pada tahun 1980-an, rendahnya jumlah penutur fasih bahasa Māori di Selandia Baru mendorong para tokoh adat setempat untuk mendirikan pusat penitipan anak.

Di sana, anak-anak didekatkan secara mendalam dengan bahasa dan budaya Māori oleh para tetua adat. Inisiatif ini kemudian berkembang menjadi jalur pendidikan berkelanjutan lewat sekolah dasar dan sekolah menengah dengan bahasa pengantar Māori.

Baca Juga: Krisis Pekerja Terampil, Robot Humanoid Diuji Coba Kerja di Bandara

“Meski kondisi banyak aksara di Indonesia mengkhawatirkan, kehadiran AI ternyata bisa memberikan harapan,” kata Derry.

Saat para peneliti menguji model AI terkini pada aksara asli seperti aksara Jawa, Sunda, dan Lontara, sebagian besar menunjukkan kinerja yang nyaris nol.

Bahkan AI tingkat lanjut pun kesulitan mengenali karakter dasar, dan sering kali menghasilkan teks yang tidak masuk akal. Hal ini terjadi karena kelangkaan data.

Sebagian besar kumpulan data pelatihan AI didominasi bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lain yang berbasis alfabet Latin.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan, di mana teknik pemrosesan bahasa alami (NLP) untuk bahasa Indonesia mengabaikan aksara lokal, yang pada akhirnya membuat penggunaan aksara-aksara tersebut semakin minim.

Untuk itu, para peneliti pun mengambil pendekatan langsung ke lapangan. Tidak hanya mengandalkan arsip digital yang terbats, namun juga secara langsung mengumpulkan 75 buku dan manuskrip dari pasar lokal serta koleksi pribadi.

Baca Juga: Lowongan Kerja Makin Banyak Cari Skill AI, Lulusan Baru Harus Siap

Proses ini dilakukan bersama penutur asli, pendidik, serta komunitas akar rumput yang peduli terhadap pelestarian warisan budaya, termasuk Aksara di Nusantara.

Kolaborasi ini dilakukan untuk menyalin, melakukan transliterasi, dan menerjemahkan ribuan halaman secara manual. Pendekatan ini memastikan AI tidak hanya mempelajari bentuk huruf, tetapi juga memahami nuansa budaya yang terkandung dalam teks.

Salah satu pencapaian paling penting adalah penyertaan aksara Lampung, yang hingga kini belum memiliki dukungan Unicode. Artinya, aksara ini pada dasarnya “tidak ada” di jaringan internet standar.

Dengan membangun kerangka kerja khusus untuk aksara Lampung, tim peneliti memberikan kehidupan digital bagi sebuah aksara yang berada di ambang kepunahan.

Dari sisi pendidikan, NusaAKSara dinilai bisa membantu sekolah untuk memanfaatkan teknologi, dalam mengajarkan aksara leluhur pada anak-anak. Selain itu, dari aspek hukum, teknologi ini bisa membandu penafsiran akta tanah bersejarah dan catatan hukum yang ditulis dalam aksara tradisional.

NusaAKsara juga memastikan identitas lokal tetap dihargai dan komunitas terkait dapat berkembang di era AI global.

“Sistem penulisan lokal Indonesia bukan sekadar artefak sejarah, sistem sistem tersebut adalah gudang pengetahuan,” pungkas Derry.

Leave a Reply