TopCareer.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri batik untuk lebih menjangkau generasi muda, khususnya Gen Z.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan, segmen anak muda dinilai makin potensial karena meningkatnya kesadaran terhadap nilai budaya, tren fesyen yang mengedepankan identitas lokal, serta meningkatnya dukungan terhadap produk lokal.
Karena itu, dibutuhkan pendekatan inovatif dalam desain, pemasaran, hingga kolaborasi antara pelaku industri batik dengan komunitas kreatif.
“Batik sudah diminati oleh Gen Z karena dipandang sebagai produk yang sesuai dengan karakter generasi muda yang berjiwa kreatif, menyukai orisinalitas, makna, dan peka terhadap isu sosial dan lingkungan,” kata Reni di Jakarta, Sabtu (2/8/2025).
Menurut Reni, kecintaan generasi muda terhadap batik inilah yang perlu dimaksimalkan.
Baca Juga: Pesan Wamenperin ke Gen Z yang Mau Angkat Industri Batik Indonesia
Reni yakin bahwa jika Generasi Z sudah mencintai dan peduli dengan brand atau produk batik tertentu, besar kemungkinan mereka akan aktif memviralkannya, baik melalui media sosial atau word of mouth.
Dengan karakter pasar seperti ini, brand awareness untuk IKM batik akan dapat terbentuk semakin positif, pasar akan semakin meluasi, penjualan meningkat, sehingga diharapkan dapat berkontribusi dalam pelestarian dan perkembangan industri batik secara umum.
Sementara, Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan mengungkapkan, Gen Z merupakan generasi yang cepat mengadopsi atau mengadaptasi budaya seni yang bernilai tinggi, serta dibungkus dengan storytelling yang menarik.
“Mereka terbuka dengan produk budaya Indonesia, jadi sebaiknya pelaku IKM batik paham mengenai preferensi batik Gen Z dan menerapkan langkah-langkah yang diperlukan agar bisnis batik yang dimiliki menjadi menarik di mata mereka,” kata Budi.
Baca Juga: Ini Sejarah dan Alasan 2 Oktober Jadi Hari Batik Nasional
Ketua Yayasan Batik Indonesia, Gita Pratama dalam sebuah webinar beberapa waktu lalu mengatakan, pelaku IKM batik bisa menerapkan berbagai cara seperti menghadirkan lini produk baru dengan warna, motif, bahan, dan model favorit Generasi Z.
“Sekaligus upaya penguatan pemasaran online, storytelling, serta menunjukkan makna dan value dari brand yang sejalan dengan prinsip yang dipegang teguh oleh mereka,” ujarnya.
Gita menegaskan, Generasi Z tak cuma sebagai pangsa pasar, tapi juga harus dipandang sebagai kolaborator dalam upaya pelestarian dan pengembangan industri batik.
“Kami melihat Gen Z sebagai mitra potensial dalam membangun ekosistem batik masa depan,” kata Gita.
“Saat ini Gen Z secara tidak langsung telah banyak berkontribusi dalam industri batik melalui berbagai peran, baik sebagai produsen, konsumen, maupun pengamat,” pungkasnya.






