TopCareer.id – Lansia di Indonesia masih belum lepas dari ancaman kemiskinan dan masalah finansial.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), 41,75 persen lansia di tanah air berada dalam kelompok rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 40 persen terbawah.
Masalah ini juga diperparah dengan absennya sistem perlindungan pensiun yang inklusif, yang membuat hanya lima persen lansia yang mampu menopang hidup secara mandiri dari dana pensiun.
Eddy Junarsin, ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), menegaskan bahwa dibutuhkan perbaikan sistem jaminan hari tua di Indonesia. Menurutnya, kurangnya besaran potongan gaji untuk pensiun jadi salah satu penyebabnya kurangnya dana pensiun bagi pekerja.
Saat ini potongan gaji untuk jaminan hari tua hanya 1 persen, ditambah kontribusi dari perusahaan sebanyak 2 persen dari gaji kotor.
Eddy menyarankan, sebaiknya potongan dari gaji pekerja untuk jaminan hari tua sebanyak 5 sampai 6 persen, dengan tambahan kontribusi perusahaan sebanyak 8 hingga 9 persen dari gaji kotor.
“Angka yang memadai sekitar 14 sampai 15 persen dari gaji kotor walau itupun kemungkinan masih pas-pasan di kemudian hari, tetapi tetap lebih baik daripada sistem sekarang,” ujarnya, mengutip laman resmi UGM, Kamis (18/6/2026).
Baca Juga: Menaker Mau Dunia Usaha Perluas Akses Kerja untuk Lansia
Ia menambahkan, angka potongan gaji ini menjadi tantangan serius bagi pengusaha atau pekerja informal.
Tanpa adanya Dana Pensiun Pemberi Kerja (sistem pemotongan otomatis dari pemberi kerja) maupun Dana Pensiun Lembaga Keuangan, kelompok ini dituntut memiliki kedisiplinan finansial yang lebih tinggi.
Maka dari itu, Eddy menyarankan para wirausahawan dan pekerja informal untuk mengalokasikan minimal 10 hingga 20 persen pendapatannya, untuk tabungan atau investasi yang dapat berguna di masa mendatang.
Sementara, pemerintah perlu merevisi aturan untuk pemotongan dana pensiun dari 1 persen menjadi 5 hingga 6 persen dari gaji kotor atas pekerja, dan dari 2 persen menjadi 8 sampai 9 persen gaji kotor dari kontribusi perusahaan pemberi kerja.
Menurutnya, ini diperlukan sehingga dana pensiun yang dimiliki cukup untuk menunjang hari tua. Selain itu, pemerintah perlu memperbanyak klinik atau rumah perawatan orang tua yang sangat berguna bagi pensiunan pada usia rentan.
Pemerintah juga dapat memberikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan suku bunga rendah bagi pensiunan, sehingga dapat membuka usaha setelah bekerja.
Baca Juga: Survei: 90 Persen Pekerja Indonesia Jadi Generasi Sandwich
Hal lain yang dapat dilakukan adalah menghapuskan usia pensiun pasti/wajib pekerja sehingga setiap orang bisa memilih masa pensiun masing-masing.
“Apabila pemerintah dapat menjalankan langkah tersebut, pekerja akan sangat terbantu dalam menghadapi usia rentan mendatang dengan menikmati hasil kerja yang dilakukan di usia produktif,” kata Eddy.
Eddy mengatakan, pembenahan jaminan hari tua bisa menjadi kunci untuk memutus rantai sandiwich generation, yang selama ini menyiksa aspek finansial generasi muda Indonesia.
Dengan sistem pensiun yang kuat dan intervensi kebijakan pemerintah, beban hidup para pensiunan di masa depan diharapkan tidak lagi menjadi tanggungan anak-cucu mereka.
“Sandwich generation itu sangat menyiksa. Apabila kebijakan pemerintah dan perusahaan diperbaiki, niscaya itu dapat membantu para pensiunan serta membantu generasi berikutnya,” pungkasnya.






