TopCareer.id – Anak muda dari kelompok usia Gen Z belakangan makin menunjukkan minat untuk datang ke acara musik atau konser.
Tren konser yang makin sering didatangi Gen Z juga membuat semakin aktifnya promotor menggelar konser yang menampilkan musisi tanah air dan internasional.
Menurut Gancar Candra Premananto, Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlanggan, fenomena ini tak lepas dari tingginya penggunaan media sosial yang mempercepat penyebaran informasi, serta membentuk minat terhadap berbagai hiburan.
Gancar mengungkapkan, promotor memanfaatkan platform digital untuk menjangkau calon penonton dengan biaya promosi yang relatif rendah.
“Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi penyelenggara konser. Pengguna internet dan media sosial yang tinggi membuat informasi mengenai konser sangat cepat menyebar. Terutama di kalangan Generasi Z,” ujarnya, mengutip laman resmi Unair, Rabu (5/8/2026).
Bagi banyak Gen Z, konser merupakan salah satu bentuk self-reward atau investasi pengalaman. Namun Gancar mengatakan, alasan ini tidak selalu menjadi motif utama dalam perilaku konsumsi.
Baca Juga: Kanye West alias Ye Bakal Gelar Konser di Jakarta, Cek Harga Tiketnya
Gancar menjelaskan, ada tiga motif yang menjadi pendorong utama perilaku membeli tiket konser yaitu self-reward, motif hedonik, dan motif simbolik.
Motif self-reward biasanya muncul setelah seseorang merasa telah bekerja keras sehingga ingin memberikan penghargaan kepada diri sendiri.
Sementara, motif hedonik mendorong individu mencari kesenangan. Sedangkan motif simbolik berkaitan dengan keinginan memperoleh pengakuan sosial.
“Di era media sosial, motif simbolik semakin kuat karena banyak orang ingin memvalidasi status sosialnya melalui pengalaman menghadiri konser tertentu,” kata Gancar.
Namun, Gancar mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan diri membeli tiket konser yang di luar kemampuan finansialnya, menggunakan pinjaman online (pinjol) jika tidak bisa membayarnya, atau melakukan tindakan melanggar hukum.
Baca Juga: Pencatatan Hak Cipta Lagu Gratis Mulai 1 Agustus
Ia mengatakan, fenomena fear of missing out (FOMO) menjadi tekanan sosial yang cukup besar bagi Generasi Z. Keinginan untuk mengikuti tren dan memperoleh pengakuan dari lingkungan kerap mendorong seseorang mengambil keputusan konsumsi secara impulsif.
Sebagai contoh, tidak sedikit masyarakat yang menggunakan layanan paylater atau pinjol untuk membeli tiket konser.
“Keputusan menjadi tidak rasional apabila kemampuan membayar tidak sebanding dengan besarnya utang. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu kebiasaan menutup utang lama dengan pinjaman baru,” kata Gancar.
Maka dari itu, supaya tetap bisa menikmati hiburan tanpa mengorbankan kesehatan finansial, Gen Z disarankan menyusun anggaran bulanan secara disiplin.
Gancar merekomendasikan alokasi sekitar 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan sosial, 20 persen untuk hiburan, dan 10 persen untuk tabungan atau investasi.
“Dengan perencanaan yang baik, seseorang dapat mempersiapkan keinginan menonton konser jauh-jauh hari. Sehingga tidak berubah menjadi keputusan konsumsi yang impulsif,” pungkasnya.



