Perempuan Lebih Rentan Kena Autoimun? Ini Penjelasan Pakar UGM
TopCareer.id – Risiko penyakit autoimun pada perempuan makin naik setiap tahunnya, membuat meningkatnya angka pengidap pada usia wanita reproduksi.
Menurut Nyoman Kertia, Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), salah satu penyebabnya adalah faktor hormonal.
“Jumlah penderita autoimun cukup besar. Kalau kita memperkirakan sekitar dua persen populasi orang dewasa mengalami autoimun, maka angkanya bisa mencapai sekitar empat juta orang di Indonesia,” kata Nyoman.
Hormon estrogen pada wanita memiliki pengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh. Sehingga perubahan atau ketidakseimbangan hormon menjadi pemicu munculnya penyakit autoimun.
Hal ini juga sangat berbahaya dan mengancam nyawa bagi perempuan hamil sehingga perlu diwaspadai pada perempuan yang berencana untuk merencanakan program hamil.
Baca Juga: Obesitas Kerap Dianggap Bukan Penyakit, Kurang Spesialis Bikin Penanganan Sulit
Mengutip laman resmi UGM, Selasa (28/7/2016) Nyoman mengatakan bahwa penyakit autoimun bisa terjadi karena sel-sel kekebalan tubuh keliru dalam mengenali sel tubuh sendiri dan asing.
Tugas sistem imun adalah mengenali dan menghancurkan benda asing yang masuk dalam tubuh seperti seperti bakteri, virus, parasit, atau zat lain yang dianggap berbahaya.
Namun, saat sel imun salah mengenali sel tubuh sendiri sebagai musuh, maka sel-sel tersebut justru diserang. Akibatnya, organ mana pun bisa jadi sasaran mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, hati, hingga organ lainnya.
Menurut Norman, penyakit autoimun pada sebagian orang belum menunjukkan gejala, namun pada kasus yang berat, penyakit autoimun dapat berakibat fatal hingga mengancam nyawa.
Penyakit autoimun bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, tetapi bukan berarti semua penderita memiliki riwayat keluarga. Selain itu, ada juga faktor lingkungan seperti polusi udara, pola makan kurang sehat, dan stres.
Baca Juga: WHO Ungkap Penyakit yang Berisiko Picu Pandemi
Nyoman menyebut, banyak pasien yang berusaha memahami penyakitnya dengan mencari berbagai informasi, termasuk lewat internet.
“Sayangnya, informasi yang tidak dipahami dengan baik justru sering membuat mereka semakin cemas dan stres. Padahal, stres dapat memperburuk kondisi autoimun,” ujarnya.
Nyoman lebih lanjut menyebut, stres bisa menjadi salah satu faktor dominan penyebab autoimun. Bukan hanya pekerja, mahasiswa pun punya potensi stres akibat tekanan akademik.
Ia menyebut, banyak pasiennya yang merupakan mahasiswa dengan autoimun. Banyak dari mereka yang awalnya sehat, namun setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul.
Menurut Nyoman, ini menunjukkan bahwa faktor psikologis merupakan faktor dominan penyebab autoimun.



