Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Friday, December 6, 2019
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Review Terminator — Dark Fate, Sekuel Pengganti yang Kehilangan Akar

Terminator: Dark FateTerminator: Dark Fate

Topcareer.id – Tak bisa dipungkiri, kegagalan Terminator 3: Rise of the Machines (2003) beserta sekuel keempatnya, Terminator Salvation (2009) membuat franchise Terminator luntang lantung.

Ide reboot sebenarnya sempat diwujudkan lewat Terminator: Genysis (2015). Namun lagi-lagi gagal dalam hal kualitas maupun performanya di box office.

Kenyataan ini sungguh bikin banyak fans putus asa sampai sang kreatornya sendiri, James Cameron turun tangan menggodok film terbaru Terminator yang diberi tajuk Dark Fate.

Baca juga: REVIEW FILM: Countdown, Aplikasi untuk Mengetahui Sisa Umur Kamu

Sejak diperkenalkan Cameron, proyek ini terbilang menjanjikan. Selain disiapkan menjadi pengganti sekuel ketiga, Dark Fate juga menghadirkan kembali Linda Hamilton sebagai Sarah Connor, dan Edward Furlong sebagai John Connor.

Tak cuma itu, Tim Miller yang dikenal lewat film Deadpool terpilih jadi sutradara. Sementara James Cameron duduk di bangku produser bersama founder Skydance Media, David Ellison.

Tidak terbayang berapa banyak fans Terminator yang kegirangan ketika proyek ini diumumkan, setidaknya sampai trailernya keluar.

Kenyataan yang seindah harapan

Peringatan: artikel ini mungkin mengandung spoiler

Terminator: Dark Fate dibuka dengan rekaman lama Sarah Connor yang menceritakan tentang pengalaman buruknya dikejar Terminator. Ini cukup keren.

Adegan kemudian beralih ke Sarah dan John Connor yang sedang menikmati hari luang di sebuah restoran, Lalu disergap oleh robot T-800 (Arnold Schwarzenegger) yang akhirnya berhasil membunuh John, dan pergi begitu saja.

Baca juga: Review Susi Susanti: Love All, Bukan Film Biopik Biasa

Ya, John Connor. Tokoh sentral yang digadang-gadang menjadi pemimpin umat manusia melawan robot di masa depan mati konyol di detik-detik awal film. Bahkan sebelum judulnya muncul di layar.

Sebagai gantinya, kita akan disuguhkan tokoh baru, remaja wanita bernama Daniella Ramos (Natalia Reyes) yang dikejar-kejar oleh robot jenis Rev-9 (Gabriel Luna) dari masa depan, lalu berusaha dilindungi oleh seorang wanita setengah robot bernama Grace (Mackenzie Davis).

Aksi manusia setengah robot Grace dan Daniella Ramos di film Terminator: Dark Fate
Aksi manusia setengah robot Grace dan Daniella Ramos di film Terminator: Dark Fate

Tidak memiliki esensi dua film pertama

Sebagai film popcorn, Terminator: Dark Fate sebenarnya tidak bisa dibilang jelek. Banyak adegan laga yang cukup spektakuler, beberapa humornya juga berhasil memancing tawa.

Namun, kalau dari sudut franchise Terminator, film ini jelas kacau. Tim Miller sepertinya lupa bagaimana dua film pertamanya bisa memberikan rasa teror terhadap penontonnya.

Karakter Arnold Schwazenegger sebagai T-800 di film pertama terlihat begitu mengerikan, dan bisa dengan mudahnya membunuh siapapun yang ditemuinya.

Sementara di Dark Fate, teror itu tidak terasa. Kita hanya dibuat bersenang-senang dengan banyak adegan seru seperti perkelahian di atas pesawat, kejar-kejaran mobil di jalanan Meksiko, tanpa ada rasa khawatir jika tokoh utamanya akan terluka atau mati.

Kesan yang timbul malah seperti mengingatkan kita akan ucapan Martin Scorsese yang menyebut kalau film MCU tak lebih dari theme park. Ya, film ini juga begitu. Kita mungkin terpana, tapi tahu kalau semuanya akan baik-baik saja.

Salah satu adegan laga di film Terminator
Salah satu adegan laga di film Terminator: Dark Fate

Dari sisi skenario, tak ada yang spesial. Film ini kurang lebih hanya pengulangan dari apa yang pernah dilakukan di film kedua. Tak ada yang benar-benar baru kecuali para tokoh anyar tadi serta tingkah T-800 yang semakin tidak masuk akal.

Tak hanya itu, kesan miscast juga begitu terasa. Terutama terkait pemilihan Natalia Reyes sebagai Dani.

Tak habis pikir rasanya tokoh John Connor bisa diganti dengan karakter remaja yang datar dan minim karisma, tanpa motif atau formula cerita baru untuk mendukungnya.

Walau mungkin bertujuan untuk bisa lebih diterima generasi sekarang, namun tetap saja terkesan terlalu dipaksakan dan terburu-buru.

Adegan di film Terminator 3: Rise of the Machines
Adegan di film Terminator 3: Rise of the Machines

Kalau sudah begini, rasanya Terminator 3: Rise of the Machines jadi tidak terlalu buruk. Setidaknya film ini masih setia dengan akarnya.

Meski film ini juga mematikan tokoh utamanya, Sarah Connor di awal cerita, Rise of the Machines punya ending yang jauh lebih masuk akal untuk menyudahi franchise ini.

Bagaimana menurut kamu? *

Editor: Ade Irwansyah

feby@gmail.com'
the authorFeby Ferdian

Leave a Reply