Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Friday, December 6, 2019
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Alasan Psikologi Kenapa Kita Sulit Wujudkan Resolusi

Sumber foto: MashupcornerSumber foto: Mashupcorner

Topcareer.id – Menyambut tahun baru, siap-siap nih untuk membuat daftar resolusi sebagai pacuan semangat di tahun depan.

Resolusi yang paling sering diinginkan, misal soal body goals. Tapi, setelah resolusi dibuat, kok rasanya sulit ya untuk dilakukan, malah seringnya lupa. Kamu begitu juga?

Dilansir dari laman Business Insider, dari data statistik US News, 80 persen dari kita akan gagal pada minggu kedua bulan Februari untuk mempertahankan komitmen mewujudkan resolusi tahun baru.

Sebuah studi dari 2016 yang diterbitkan Personality and Social Psychology Bulletin menemukan bahwa 55 persen dari resolusi Tahun Baru terkait dengan kesehatan, seperti berolahraga lebih banyak, atau makan sehat.

Hal ini merupakan sesuatu yang rumit untuk dilakukan kapan saja sepanjang tahun, apalagi di bulan-bulan setelah liburan. Rasa malas pun bergelayutan.

Baca juga: Ingin Sukses di Awal Tahun? Hindari 6 Hal Ini

Penelitian yang dipimpin Kaitlin Woolley dari Cornell University dan Ayelet Fishbach dari University of Chicago menemukan bahwa para peserta percaya kesenangan dan kepentingan adalah faktor penting dalam menentukan resolusi.

Para peneliti juga menemukan bahwa faktor kenikmatan satu-satunya hal yang penting. Dengan kata lain, jika para peserta mendapatkan imbalan langsung dari kebiasaan baru mereka, maka mereka akan lebih cenderung mengikutinya.

Penelitian lain, yang diterbitkan dalam Journal of Nature and Science, mencari tahu mengapa kita begitu sulit mencapai tujuan-tujuan yang berhubungan dengan kesehatan.

Ini menunjukkan bahwa hanya seperlima dari kita yang melakukan jumlah latihan yang disarankan, terlepas dari fakta bahwa kita selalu diberitahu jika gaya hidup sehat dapat memperpanjang hidup.

Baca juga: Bingung Liburan Akhir Tahun Mau Ngapain? Coba 7 Ide Seru Ini

Menurut seorang profesor di departemen kinesiologi di Universitas Maryland, Seppo Iso-Ahola, masalahnya terletak pada pertempuran internal antara melakukan apa yang ingin kamu lakukan, dengan apa yang harus dilakukan.

Jika kamu bisa berhenti berpikir terlalu keras untuk makan salad, atau berlari setelah bekerja, kamu mungkin memiliki kesempatan yang lebih baik untuk melakukannya.

Jadi agar tetap fokus, menjauhlah dari kata-kata yang tidak berkomitmen, cobalah untuk tidak membuat dirimu khawatir tentang keputusan sehatmu. Cobalah untuk membingkainya dengan cara yang menurutmu akan kamu nikmati.

Jika tidak berhasil, jangan khawatir masih ada tahun depan.

Editor: Feby Ferdian

hildailhamil@gmail.com'

Leave a Reply