Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Thursday, July 2, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Mengenal Deepfakes, Fitur Aplikasi yang Sedang Dikembangan TikTok

Ilustrasi fitur deepfakes di Tiktok. (dok. Techcrunch)

Topcareer.id – Fitur deepfakes jika diluncurkan pada aplikasi TikTok bisa menciptakan suatu kondisi yang mungkin disalahgunakan karena fitur dari teknologi ini memungkinkan penggunanya bertukar wajah.

Perusahaan induk TikTok, ByteDance telah membangun teknologi untuk memungkinkan kamu memasukkan wajahmu ke dalam video yang dibintangi orang lain. Bytedance mengembangkan fitur yang belum dirilis ini menggunakan teknologi deepfake yang kode aplikasinya mengacu pada Face Swap.

Dengan fitur Face Swap baru ByteDance, pengguna bisa memindai diri mereka sendiri, memilih video dan memasang wajah mereka di tubuh seseorang dalam sebuah video klip.

Baca juga: Mengenal Zhang Yiming, Pendiri TikTok yang Misterius

Mengutip Techcrunch.com, Senin (13/01/2020), fitur deepfakes, jika diluncurkan pada Douyin dan TikTok dimaksudkan untuk menciptakan kesenangan di mana teknologi bertukar muka bisa digabungkan dengan sejumlah pilihan video, namun dikuatirkan digunakan untuk disalahgunakan.

ByteDance dapat membawa teknologi deepfakes yang sangat hidup ke aplikasi TikTok dan Douyin, dua aplikasi paling populer di dunia dengan lebih dari 1,5 miliar unduhan.

Perusahaan startup market research in-app di Israel Watchful.ai, telah menemukan kode untuk fitur deepfakes di versi terbaru aplikasi TikTok dan Android Douyin. Watchful.ai dapat mengaktifkan kode di Douyin untuk menghasilkan fitur screenshot, meskipun saat ini belum tersedia untuk umum.

Baca juga: Tren Media Sosial yang Perlu Diketahui di 2020

Cara menggunakan teknologi deepfakes, pengguna memindai wajahnya sendiri ke TikTok. Ini juga berfungsi sebagai pemeriksaan identitas untuk memastikan seseorang hanya mengirimkan wajahnya sendiri sehingga tidak dapat membuat deepfake orang lain.

Kemudian bisa memilih beberapa video dari ByteDance untuk digunakan, dan itu akan menggantikan wajah siapa pun yang ada di klip dengan wajah kamu. Kamu bisa membagikan atau mengunduh video deepfake ini dengan disertai watermark overlay yang diklaim perusahaan akan membantu membedakan konten ini tidak nyata.

Fitur kontroversial

TikTok menolak untuk berkomentar mengenai fitur deepfakes ini kapan akan diluncurkan, bagaimana privasi pemindaian biometrik dilindungi dan batas usia. Pihak TikTok hanya mengatakan bahwa fragmen kode tidak aktif dan sedang dihapus untuk menghilangkan kebingungan.

Ini mencurigakan, dan tidak menjelaskan mengapa kode untuk fitur deepfakes dan persyaratan layanan khusus dalam bahasa Inggris untuk fitur tersebut muncul di TikTok.

Mungkin saja fitur Deepfakes Face Swap ini tidak pernah diluncurkan secara resmi di Cina atau AS. Tetapi fitur ini berfungsi penuh, bahkan jika tidak dirilis, dan menunjukkan kesediaan ByteDance untuk merangkul teknologi kontroversial meskipun memiliki reputasi misinformasi dan pornografi non-konsensual.

Pendiri dan CEO Watchful.ai, Itay Kahana, mengatakan bahwa aplikasi deepfake ini mungkin tampak menyenangkan di permukaan, tetapi seharusnya tidak boleh menjadi kuda troya yang membahayakan hak IP dan data pribadi, terutama data pribadi dari anak di bawah umur yang sebagian besar merupakan pengguna TikTok terberat hingga saat ini.

Teknologi pengubah wajah adalah bagian dari tren baru dari media yang dipersonalisasi yang bisa jadi besar pada tahun 2020. Media sosial telah berkembang dari selfie ke Bitmoji ke Animoji ke Cameos, dan sekarang menjadi deepfake. Diperlukan perlindungan yang tepat dan pengawasan ketat terhadap teknologi ini.

Penggunaan TikTok–yang merupakan milik perusahaan China–saat ini telah dilarang oleh U.S. Navy atau Angkatan Laut AS. Kerjasama penggabungan Musical.ly dan ByteDance untuk TikTok juga sedang diselidiki oleh Komite Investasi Asing di Amerika Serikat. Ketakutan akan penyalahgunaan teknologi Deepfake telah meningkatkan pengawasan dan kewaspadaan. *

Editor: Ade Irwansyah

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply