Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Jumat, Januari 21, 2022
redaksi@topcareer.id
Profesional

Sering Dianggap Pembohong, Begini Cara PR Kelola Informasi Saat Krisis

CEO Strategy PR Consulting, Ali Nurdin. Topcareer.id/Ali Danas

Topcareer.id – Dalam situasi krisis, seorang Public Relation (PR) dituntut untuk memiliki kemampuan dalam hal mengelola informasi dengan baik. Sehingga pesan yang ia sampaikan akan menjadi sebuah informasi yang dibutuhkan publik. Meski demikian tak seluruh informasi harus diberikan sekaligus.

Hal inilah yang lalu dipersepsikan salah oleh publik. Sering kali PR dianggap pembohong karena dianggap menutup-nutupi peristiwa yang sebenarnya, demi mempertahankan citra positif perusahaan tempatnya bekerja.

“Etika seorang PR harus terbuka, jujur, tidak boleh menutup-nutupi sesuatu apalagi berbohong. Seorang PR harus menyampaikan informasi apa adanya.”kata CEO Strategy PR Consulting, Ali Nurdin kepada Topcareer.id, Senin (2/3/2020) di Jakarta.

Baca Juga: Daftar Profesi Yang Dianggap Paling Bisa Dipercaya

Hanya mungkin persoalan timing. Satu konten itu kapan disampaikan. Ada eskalasi informasinya.

“Apakah disampaikan saat ini juga atau nanti menunggu saat informasinya lengkap. Pada situasi krisis. seringkali tidak semua informasi tersedia pada saat itu.” tambah Ali.

“Tahap awal itu apa yang ingin diketahui publik. Tahap berikutnya apa lagi, dan siapa yang bertanggung jawab. Lalu apa yang dilakukan, dan ada tahap selanjutnya lagi. Seorang PR harus paham hal ini. Bagaimana informasi ini dikelola dengan bijak.”ujar Ali.

Ali mencontohkan peristiwa terjadinya kecelakaan pesawat terbang yang dialami oleh salah satu maskapai penerbangan. Pada saat jatuh belum banyak informasi yang didapatkan. Maka yang dilakukan PR sebagai juru bicara perusahaan harus hati-hati dan tidak boleh terburu-buru saat memberikan informasi.

Baca Juga: Cara Tepat Mengatasi Penolakan Secara Profesional

“Seorang PR mungkin pertama ia akan mengatakan kepada awak media bahwa pesawat kami hilang kontak. PR tidak menyebut pesawatnya jatuh, apakah dia berbohong? Tidak.”tegas Ali.

Perkembangan berikutnya setelah ketahuan pesawatnya jatuh, ia akan update menyampaikan informasinya bahwa pesawatnya jatuh di koordinat sekian.

Setelah itu publik bertanya apakah ada korban, maka ia pun akan mengatakan kami belum bisa rinci jumlah korban. Baru setelah itu dia akan menyampaikan pesawat membawa sekian penumpang.

“Salah satu kunci saat menghadapi krisis adalah kecepatan dalam memberikan respon. Jadi tak perlu ditunda. Tapi juga tidak perlu semuanya di berikan pada saat itu.”tegas mantan wartawan harian Republika.

Alasannya adalah bila sebuah informasi itu ditunda maka publik akan melihat kesan bahwa peristiwa tersebut di tutup-tutupi. Selain itu publik juga akan mendapat informasi dari sumber lain , dimana informasi itu bersifat rumor dan spekulatif.

“Pada saat krisis, stakeholdenya juga perlu dipetakan secara jelas. Ini bagian dari handling krisis.”tegasnya.*(rw)

the authorSherley Agnesia

Tinggalkan Balasan