Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, June 2, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Review Film Pendek Nawal, Sisi Lain Penculikan Aktivis Reformasi 1998

Adegan film Nawal. (dok. Uncle's film)

Topcareer.id – Sejatinya, apa yang disebut Reformasi 1998 tidak terjadi dalam satu-dua hari. Ia bukan sekadar peristiwa Kerusuhan 14-15 Mei, demo mahasiswa ke gedung DPR/MPR lalu memuncak pada pengunduran diri Soeharto tanggal 21 Mei. Camkan, rezim Orde Baru tidak runtuh dalam satu malam. Ada malam-malam lain yang jumlahnya tahunan yang mendahului robohnya rezim tersebut. Film pendek ini, Nawal (2019), yang dibaca terbalik jadi “lawan”, merekam sisi lain serpihan perlawanan terhadap Orde Baru Soeharto.

Yang dimaksud adalah penculikan aktivis yang marak terjadi sebelum Soeharto jatuh. Aktivisme melawan rezim Orde Baru sudah bergema sejak 1970-an, saat rezim itu masih seumur jagung. Protes pembangunan TMII, Peristiwa Malari, hingga NKK/BKK yang mengebiri aktivisme mahasiswa adalah riak-riak perlawanan sejumlah aktivis. Generasi berganti, para aktivis dan mahasiswa terus melakukan perlawanan mereka pada praktek kotor Soeharto dan antek-anteknya hingga tahun 1990-an.

Soeharto tak tinggal diam. Pada paruh kedua 1990-an, ia memerintahkan aparat militer melakukan tindakan penculikan pada para aktivis. Di majalah Tempo edisi khusus wafatnya Soeharto (2008), ditulis ada tiga periode penculikan aktivis jelang masa akhir Soeharto. Pertama, “periode pengamanan” jelang Pemilu 1997; kedua jelang Sidang Umum MPR 1998 untuk memastikan Soeharto berkuasa lagi; dan ketiga saat Kerusuhan Mei 1998.

Baca juga: Sobat Ambyar Film, Kado Terakhir Didi Kempot untuk Fans

Memahami konteks sejarah masa itu penting sebagai bekal nonton Nawal yang disutradarai Bayu Adityo Prabowo. Sebab, sebagaimana lazimnya film pendek, film ini tak memberi tahu penontonnya pengantar untuk lebih memahami duduk perkara asal-muasalnya.

Yang kita saksikan adalah sebuah potongan kecil kehidupan seorang aktivis mahasiswa masa itu bernama Maha (Julfikar Maha Putra). Ia tengah pulang ke rumah orangtuanya. Seorang kawan sesama aktivis datang memperingatkannya, rezim tengah membabi-buta menculiki para aktivis. Ia diminta hati-hati.

Adegan film Nawal. (dok. Uncle’s Film)

Ibunya (Noviya Setyawati) memintanya tetap di rumah. Maha menolak. Hatinya terusik. Ia tak bisa tinggal diam saja di rumah sementara kawan-kawannya diculiki. Ia harus kembali melawan. Ia kembali ke tempat kosnya dan diculik.

Ibu dan adiknya, Drupadi (Nadia Karina) mencari-cari Maha yang tak ada kabar beritanya. Dari tetangga tempat kosnya ia tahu putranya diciduk paksa.

Menarik bahwa yang dikulik oleh film pendek ini bukan tentang heroisme aktivis peroboh Orde Baru, melainkan tentang keluarga yang harus menanggung penderitaan akibat ada anggota keluarganya dihilangkan.

Baca juga: Menyimak Perkembangan Film Nasional dari Tahun Ke Tahun

Kita tahu, hingga kini, sejumlah aktivis yang diculik jelang Orde Baru runtuh tak ketahuan rimbanya. Salah satunya penyair Wiji Thukul. Kita tak pernah tahu apa mereka sudah meninggal akibat disiksa atau masih hidup. Bila meninggal, kita tak tahu di mana mereka dikubur.

Belum lagi, kita juga tak pernah menyaksikan orang yang bertanggung jawab atas penculikan itu dihadapkan ke pengadilan, mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi, serta dihukum seadil-adilnya.

Namun ada sisi lain, yang dengan jitu diangkat oleh film pendek ini: mereka yang diculik dan tak ketahuan rimbanya itu hingga sekarang punya keluarga. Mereka adalah suami seorang istri, putra seorang ibu, atau kakak seorang adik.

Mereka yang ditinggalkan ini berhak tahu dan memperoleh keadilan atas apa yang terjadi pada anggota keluarganya yang hilang itu. Inilah sebentuk perlawanan yang hingga kini masih berlangsung.

Baca juga: Ingin Jadi Sineas Andal ? Kamu Harus Sering Ikut Festival Film, Kata Hanung Bramantyo

Kamu mungkin pernah dengar, setiap Kamis anggota keluarga korban kekejaman rezim Orde Baru berdemo selama bertahun-tahun di depan Istana Merdeka, menuntut jawaban pertanggung-jawaban pemerintah. Aksi itu dikenal dengan sebutan Kamisan. Pemerintahan berganti, mereka tak kunjung mendapat keadilan. Dari yang demo saban Kamis itu ada yang sudah berpulang.

Ini disimbolkan dengan ibunda Maha yang setiap pagi menyiapkan sarapan telor mata sapi, secangkir kopi panas dan koran pagi lalu menunggu anaknya pulang hingga Tuhan memanggilnya. Namun, penantian itu tak lantas berakhir. Adiknya menggantikan sang ibu.

Sang adik adalah perlambang generasi pasca-1998 yang hingga kini menanti jawaban atas apa yang sesungguhnya terjadi pada para aktivis yang hilang, maupun berbagai peristiwa kekejaman sepanjang rezim Orde Baru yang masih diselubungi misteri.

Film Nawal pertama dirilis pertengahan tahun lalu, pernah diputar dalam acara yang digelar Amnesty Internasional Indonesia. Saat ini tengah dijadwalkan untuk dikutsertakan dalam berbagai festival film. *

the authorAde Irwansyah

Leave a Reply