Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, January 18, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Siapa yang Berisiko Tinggi Alami Kekerasan di Rumah Selama Pandemi?

Kekerasan di rumah.

Topcareer.id –  Banyak negara di seluruh dunia yang telah menerapkan pembatasan sosial (lockdown), anjuran untuk tetap di rumah, dan menjaga jarak fisik untuk mencegah penyebaran COVID-19. Tetapi rumah tidak selalu merupakan tempat yang aman untuk mereka yang rentan alami kekerasan di dalam rumah.

Lantas, siapa yang berisiko lebih tinggi mengalami kekerasan selama masa tinggal di rumah? Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjawab dalam laporannya yang rilis pada Juni 2020 lalu.

“Anak-anak, remaja, perempuan, laki-laki, dan lansia yang sebelum pandemi COVID-19 sudah tinggal di rumah tempat terjadinya kekerasan akan terus bertemu dengan pelaku kekerasan karena anjuran untuk tetap di rumah saja,” tulis laporan itu.

Menurut WHO,  anak-anak, orang dewasa, dan lansia dengan disabilitas atau masalah kesehatan jiwa juga berisiko lebih tinggi mengalami kekerasan, bahkan tanpa harus tinggal di rumah saja, dan mereka pun memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk meminta bantuan.

Baca juga: Suka Linglung Dan Kurang Fokus? Hati-Hati, Mungkin Itu Gejala Covid-19

Mengapa anak-anak rentan kekerasan di rumah selama pandemic COVID-19?

– Lebih sedikit kesempatan untuk meninggalkan rumah dan mengakses bantuan dibandingkan dengan orang dewasa.

– Anak-anak yang lebih kecil mungkin lebih sulit memahami atau memiliki akses ke jalur bantuan

–  Kurangnya akses ke sekolah sebagai tempat yang aman dan tidak adanya jaringan dukungan dari sekolah karena sekolah ditutup untuk sementara.

– Meningkatnya risiko kekerasan online karena lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya.

Mengapa perempuan rentan kekerasan di rumah selama pandemic?

– Beban rumah tangga yang tinggi dan tidak seimbang yang disebabkan oleh perpaduan bersekolah di rumah dan kewajiban merawat orang yang sakit dan lansia dapat meningkatkan stres dan konflik dengan pasangan.

– Anjuran tetap di rumah saja dapat meningkatkan frekuensi permintaan hubungan seksual dari pasangan sehingga meningkatkan risiko paksaan untuk berhubungan intim atau seks yang tidak diinginkan. Kondom dan alat kontrasepsi juga mungkin lebih sulit untuk diakses.

– Kepemilikan telepon atau akses internet dapat menjadi terbatas dan dipantau oleh pasangan.

– Kebergantungan finansial perempuan kepada pasangannya, dan kebergantungan perempuan lansia kepada anggota keluarga lainnya (misalnya, anak yang sudah dewasa), dapat meningkatkan penyalahgunaan ekonomi.

Lansia

– Masalah mobilitas dapat membatasi kesempatan untuk mencari bantuan.

– Menghadapi hambatan dalam mengakses informasi tepercaya menggunakan teknologi yang lebih baru, termasuk internet.

– Mungkin dianjurkan atau dipaksa untuk tetap berada dalam karantina untuk waktu yang jauh lebih lama karena risiko mereka untuk terinfeksi lebih tinggi, yang mungkin akan memperpanjang isolasi sosial, meningkatkan kekerasan, dan mengurangi kesempatan untuk mencari bantuan.

– Kebergantungan fisik terhadap anggota rumah tangga lainnya (misalnya dalam hal penyediaan makanan, berpakaian, menggunakan kamar mandi).

– COVID-19 menyebabkan terjadinya pengurangan staf di fasilitas perawatan jangka panjang karena ada kemungkinan staf jatuh sakit atau melakukan isolasi mandiri, dan penundaan kunjungan keluarga, sehingga orang-orang yang tinggal di fasilitas ini semakin merasa terisolasi dan meningkatkan risiko kekerasan dan penelantaran yang sebelumnya sudah tinggi.

Leave a Reply