Sosiolog Ungkap Alasan Lulusan Perguruan Tinggi di RI Malah Susah Cari Kerja
TopCareer.id – Masih tingginya tingkat pengangguran sarjana atau lulusan perguruan tinggi menunjukkan fenomena di mana pendidikan tinggi belum selalu sejalan dengan kebutuhan dunia kerja.
Sosiolog Pendidikan Bagong Suyanto mengatakan, idealnya peningkatan pendidikan memang berjalan bersama peningkatan kompetensi, kualitas pekerjaan, dan kesejahteraan.
Namun, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Sosial (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) itu mengatakan, realitas di Indonesia belum sepenuhnya menunjukkan pola tersebut.
“Lulusan perguruan tinggi masih dapat menemukan pekerjaan yang tidak sejalan dengan pendidikan maupun kompetensi yang mereka miliki,” kata Bagong, mengutip laman resmi Unair, Senin (31/9/2026).
Baca Juga: BPS Ungkap 1 Juta Sarjana di RI Menganggur
Dia menilai, dunia industri terus berkembang sementara sebagian lulusan belum memiliki keterampilan yang relevan. Akibatnya, tidak semua lulusan mampu memenuhi tuntutan pekerjaan yang tersedia.
Kesenjangan jadi semakin terasa saat melihat arah pembangunan industri Indonesia yang cenderung mengutamakan industri padat modal. Penggunaan teknologi dan mesin membuat industri jenis ini tidak butuh banyak tenaga kerja.
“Gelar sarjana tidak lagi dapat menjadi jaminan seseorang untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan taraf hidupnya,” kata Bagong.
Menurutnya, persoalan ini bukan hanya soal terkait kemampuan lulusan. Arah pembangunan ekonomi juga menentukan seberapa luas kesempatan kerja yang tersedia.
Karena itu, Bagong mengatakan orientasi pembangunan harus diubah agar lebih mengembangkan industri padat karya.
Baca Juga: 1 Juta Sarjana Menganggur, Pakar Soroti Kesenjangan Skill dan Kebutuhan Industri
Di sisi lain, perguruan tinggi juga harus memperhatikan kualitas lulusannya. Proses pendidikan harus mampu menghasilkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Pendidikan harus membekali mahasiswa dengan kemampuan yang relevan dan mampu menghadapi perubahan pasar kerja. “Percuma lulusan sarjana banyak apabila kualitas perguruan tingginya tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tegas Bagong.
Di sisi lain, pemerintah juga harus bisa membuka lebih banyak lapangan kerja melalui arah pembangunan yang mendorong industri padat karya. Sementara, perguruan tinggi wajib memastikan lulusannya punya kompetensi yang sesuai.
“Jangan hanya mengejar jumlah sarjana, tetapi pastikan mereka memiliki kualitas dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja,” pungkasnya.



