Doomjobbing, Kala Cari Kerja Malah Bikin Makin Cemas
TopCareer.id – Sulitnya mencari kerja kini juga bisa menimbulkan stres dan kecemasan. Bahkan, kini ada istilah “doomjobbing.”
“Doomjobbing” merupakan gabungan dari kata doomscrolling (terus menerus scrolling konten negatif di internet) dan job searching (mencari pekerjaan).
Ini dipicu oleh stres saat mencari kerja, membuat banyak pencari kerja terus menerus melakukan refresh situs lowongan pekerjaan dan buru-buru dalam melamar pekerjaan baru.
Istilah ini pertama kali dilontarkan oleh Ilya Bagrak, seorang manajer produk asal Los Gatos, California, melalui unggahan di Threads pada 25 Maret lalu.
“Saya kena PHK dua pekan lalu. Anak perempuan saya yang berusia delapan tahun melihat saya terlalu sering membuka LinkedIn dan menyebutnya ‘doomjobbing,'” katanya, mengutip CNBC Make It, Kamis (25/6/2026).
Menurut pelatih karier dan kepemimpinan Phoebe Gavin, menelusuri lowongan kerja memang bisa memberikan rasa lega sementara.
Namun pada akhirnya, kebiasaan itu justru membuat pencari kerja merasa semakin tidak berdaya dan putus asa karena tidak tahu kapan pencarian kerja mereka akan berakhir.
Baca Juga: Lulusan Baru di Indonesia Perlu 20 Bulan Buat Dapat Kerja
Pelatih karier Eliana Goldstein menyebut, kecemasan saat mencari kerja makin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
“Pasar kerja terasa lebih sulit dibanding sebelumnya dan orang-orang merasakan tekanan yang sangat besar,” ujarnya.
Menurutnya, banyak kandidat merasa cara-cara konvensional dalam mencari kerja tak lagi efektif.
Selama ini orang diajarkan bahwa jika ingin mendapatkan pekerjaan, mereka cukup membuka situs lowongan kerja. Namun, kini setiap lowongan baru langsung dibanjiri pelamar.
Data Greenhouse yang dikutip Business Insider menunjukkan rata-rata satu lowongan pekerjaan pada pertengahan 2025 menerima 242 lamaran. Angka ini tiga kali lebih banyak dibandingkan tahun 2017.
Karena persaingan yang sangat ketat, banyak pencari kerja merasa harus melamar sebanyak mungkin lowongan secepat mungkin, supaya memiliki peluang mendapatkan panggilan.
Survei Monster Maret lalu menemukan, 48 persen pencari kerja mengaku lebih mengutamakan kecepatan dan kuantitas lamaran dibanding selektivitas.
Bahkan, 25 persen responden melamar hampir semua pekerjaan yang terlihat mungkin untuk didapatkan.
Baca Juga: Melamar Kerja ke Banyak Posisi di Satu Perusahaan? Perhatikan Ini
Menurut Gavin, doomjobbing muncul karena keinginan untuk mendapatkan kembali rasa kendali.
“Karena begitu banyak aspek dalam pencarian kerja berada di luar kendali kita, kita mencari sesuatu yang membuat kita merasa punya kendali, meskipun sebenarnya tidak terlalu efektif,” ujarnya.
Goldstein menyebut, doomjobbing memang bisa membuat seseorang merasa produktif. Namun, ini bukan cara efektif mencari pekerjaan. Melamar lebih banyak pekerjaan tidak otomatis meningkatkan peluang diterima.
Sebaliknya, melamar secara sembarangan ke posisi yang kurang sesuai justru berpotensi menghasilkan lebih banyak penolakan atau tidak mendapat respons sama sekali.
“Itu akan membuat Anda cemas. Anda mulai meragukan diri sendiri: apakah saya kandidat yang buruk? Mengapa tidak ada yang tertarik?” katanya.
Doomjobbing juga mengalihkan waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk aktivitas yang lebih bermakna seperti membangun relasi, memperluas jaringan profesional, dan memperkuat personal branding.



