TopCareer.id – Scam dan fraud juga bisa terjadi pada masyarakat yang melek teknologi dan punya literasi digital tinggi.
Hudiyanto, Ketua Sekretariat Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (IASC), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, masalah scam bukan cuma karena kurangnya literasi digital.
Dalam acara Executive Policy Forum Kolaboratif Penanganan Fraud dan Scam Digital di Jakarta, Kamis (16/4/2026), Hudiyanto mengungkapkan bahwa ada lima pintu yang jadi jalur masuk scam.
Kelima pintu itu adalah kurangnya literasi digital, ketakutan, kekhawatiran, ancaman, dan kesepian.
“Jadi literasi itu hanya satu pintu, kalau sudah pintar literasinya, maka scammer akan menggunakan pintu yang kekhawatiran,” kata Hudiyanto.
Baca Juga: Waspada, Scam Mengincar Uang THR Kamu!
Dia mencontohkan, seorang pria dewasa yang akan bersepeda mendapatkan notifikasi penipuan bahwa akun Netflix-nya diblokir karena belum bayar, hal ini bisa membuat korban cepat-cepat mengurus pembayarannya ketimbang mengorbankan kegiatannya.
Kepada TopCareer.id, Hudiyanto menambahkan, saat ini Gen Z masih bisa jadi korban scam, meski kerap dianggap sudah memiliki literasi digital yang baik.
“Contoh ada tiket konser di Jakarta yang harga normalnya dua juta, mungkin ditipu cuma satu juta, dan kalau bisa mengajak temannya bisa lebih murah lagi, ini kan bukan masalah literasi,” kata Hudiyanto.
Menurutnya, jalur kesepian semacam itu misalnya, bisa membuat seseorang dengan mudah tergiur hiburan yang murah tanpa berpikir logis, yang berujung membuat dirinya menjadi korban penipuan.
Baca Juga: Dijanjikan Kerja Restoran, Ribuan WNI Malah Jadi Scammer di Kamboja
Firlie Ganinduto, Ketua Umum Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (Adigsi) dalam acara yang sama mengatakan, fraud digital merupakan salah satu ancaman bagi ketahanan siber Indonesia, di tengah perkembangan digital yang masif.
Dia menyebut, perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) ibarat pedang bermata dua.
“Di satu sisi, teknologi ini memudahkan manusia, namun di sisi lain teknologi ini juga dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan,” ujarnya.
Firlie menekankan, kolaborasi antara regulator dan sektor swasta menjadi kunci dalam memperkuat keamanan siber sekaligus meningkatkan edukasi pengguna.






