Edukasi

Kelamaan di Medsos Turunkan Literasi Anak, Pembatasan Dinilai Relevan

Ilustrasi anak-anak main medsos. (Gambar dibuat dengan AI Gemini)

TopCareer.id – Langkah pembatasan media sosial (medsos) bagi anak di bawah 16 tahun di Indonesia dinilai relevan diberlakukan saat ini.

Menurut Sailal Arimi, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut hasil penelitian dari University of Georgia Athens, Georgia, Amerika Serikat, menemukan, semakin banyak waktu anak remaja mengakses media sosial, semakin lemah kemampuan literasi membaca dan menguasai perbendaharaan kosakata, yang memengaruhi prestasi anak di sekolah.

Karena itu, langkah pemerintah membatasi medsos seperti TikTok, Instagram, X dll., dianggap cukup strategis, mengingat usia anak yang belum memiliki kemampuan cukup dalam menyerap ilmu, konten dan perilaku yang variatif, bahkan belum bisa menentukan sesuatu yang bisa dianggap baik dan tidak baik di mata masyarakat.

Baca Juga: Batas Usia Pemakaian Medsos pada Anak Menurut Komdigi

“Jadi dengan dibatasinya akses tersebut akan sangat membantu dalam pemilihan kontennya terutama pada usia rentan remaja dan kanak-kanak,” kata Sailal, mengutip laman resmi UGM, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membuat penggunaan gadget (gawai) tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari.

Gawai bisa berdampak positif jika digunakan untuk menambah wawasan, membangun portofolio, menjadi remaja berkualitas, terkoneksi secara positif dalam pergaulan yang sehat, dan memiliki pengetahuan luas.

Namun, dampak negatif dapat muncul jika gadget dipakai hanya untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain game online dan konten medsos sehingga terpengaruh oleh konten negatif seperti kekerasan, kriminalitas, dan lainnya.

Sailal mengatakan, dampak buruk dalam membangun relasi juga muncul dari adanya sikap antisosial, teror, dan bullying.

Baca Juga: Mulai 28 Maret 2026, Anak Belum 16 Tahun Dilarang Akses TikTok hingga IG

“Yang menjadi persoalan sekarang kita harus fokus melihat gawai itu dari sisi keberadaan fungsinya. Jadi bagaimana usia pra-16 tahun itu bisa menggunakan gawai secara positif untuk belajar, meningkatkan keterampilan atau jejaring sosial yang sehat,” katanya.

Untuk itu, pembatasan akses medsos pada anak dan remaja dinilai jadi cara yang paling tepat untuk saat ini, di samping mendesain teknologi algoritma untuk mengklasifikasikan penggunanya. Menurut Sailal, jauh lebih sulit dalam mengatur individu untuk memilih benar atau salah.

“Teknologi interaktif ini harus bisa dibuat atau diarahkan lebih tepat guna dan tepat sistemnya, agar penggunaan gawai betul-betul sudah berdasarkan usia,” pungkasnya.

Leave a Reply