TopCareer.id – Filipina dilaporkan tengah mencari cara untuk menghemat energi akibat lonjakan biaya bahan bakar global yang terdampak konflik di Timur Tengah.
Pemerintah pun menyarankan warga untuk mengurangi penggunaan AC, menghindari perjalanan yang tidak penting, hingga mempertimbangkan pemangkasan hari kerja.
Mengutip Straits Times, Selasa (10/3/2026), negara tetangga Indonesia ini mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyaknya, dan perang di Iran dapat memacu inflasi yang telah mencapai level tertinggi dalam 13 bulan pada Februari lalu.
Pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos Jr. pun pekan lalu memerintahkan kantor-kantor pemerintah untuk mengatur AC tidak lebih rendah dari 24 derajat Celsius, serta menerapkan kerja fleksibel demi menghemat bahan bakar.
Presiden Marcos juga berencana meminta wewenang darurat dari Kongres untuk memangkas pajak produk minyak bumi, serta sedang mempertimbangkan ide empat hari kerja seminggu.
Baca Juga: Cek, Inspirasi Green Office yang Patut Dicoba Perusahaan
Sementara, Wakil Presiden Sara Duterte mendesak para pendukungnya menahan diri dari pawai motor atau konvoi kendaraan, saat melakukan protes terhadap saingan politiknya yaitu Presiden Marcos.
Di sisi lain, Walikota Manila menginstruksikan pemerintah kota untuk memangkas konsumsi bahan bakar dengan melakukan rapat online, mematikan listrik pada pukul 17.00, dan melarang perjalanan yang tidak mendesak.
Terkait usulan empat hari kerja seminggu, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Filipina menyatakan bahwa hal tersebut dapat berdampak signifikan pada industri manufaktur, yang merupakan pilar utama ekonomi.
“Kami telah beroperasi dengan sumber daya yang terbatas, dan mengurangi jumlah hari kerja lebih lanjut dapat memengaruhi komitmen kami,” kata Perry Ferrer, Presiden KADIN Filipina.
Filipina secara luas dipandang oleh para ekonom sebagai salah satu negara yang paling rentan di kawasan Asia-Pasifik terhadap risiko inflasi dan pertumbuhan ekonomi akibat konflik Timur Tengah.
Deepali Bhargava, kepala riset regional di ING Bank NV menyebut, negara ini “cenderung mengalami dampak inflasi yang lebih kuat karena harga bahan bakar ritel lebih didorong oleh pasar dan subsidi yang terbatas.”
Baca Juga: Daftar 10 Destinasi Wisata yang Paling Ramah Lingkungan
Beberapa instansi pemerintah menyatakan akan memberikan subsidi bahan bakar kepada nelayan, petani, dan pengemudi transportasi umum.
Upaya lain adalah dengan memakai aplikasi untuk mengunci harga bahan bakar lebih awal. Tim Gonzales, seorang penjual online, menggunakan aplikasi tersebut untuk membeli sekitar 300 liter diesel sebagai cadangan keluarganya.
Saya bisa membeli literan bahan bakar virtual di awal dan mengunci harga saat ini,” katanya. Gonzales telah menggunakan aplikasi ini sejak 2022 dan membangun komunitas Facebook dengan lebih dari 16.000 anggota untuk membantu melawan lonjakan harga.
Warga lainnya melakukan penghematan dengan cara berbeda. Rowena Brucal, pengelola kantin sekolah di distrik keuangan Makati, mengaku menghabiskan dua tangki LPG dalam empat hari.
Karena tidak bisa berbuat apa-apa soal kenaikan harga, ia mulai menghemat uang dengan mengurangi porsi makanan di setiap sajian.
“Kami juga mematikan lampu saat tidak ada pelanggan karena mengurangi konsumsi adalah jalan keluarnya,” ujarnya.






