TopCareer.id – Meningkatnya konsumsi di momen jelang Idulfitri membuat masyarakat harus pintar-pintar dalam mengelola keuangan sebelum lebaran.
Mulai dari membeli pakaian baru, kue kering, hingga persiapan mudik, juga meningkatkan pengeluaran, apalagi jika dibandingkan hari biasa.
Tika Widiastuti, pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair), menilai bahwa peningkatan konsumsi jelang hari besar adalah sesuatu yang wajar, karena masyarakat melakukan aktivitas yang tidak terjadi di hari-hari biasa.
Ia pun mengatakan bahwa konsumsi tidak selalu bersifat konsumtif.
“Kalau dari perspektif ekonomi, perilaku konsumtif terjadi ketika seseorang membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh tren, keinginan untuk meningkatkan status sosial, atau sekadar mengikuti ajakan lingkungan,” ujarnya.
Baca Juga: THR Cair, Ini Tips Biar Tak Menyesal di Akhir
Meski begitu, masyarakat seringkali tidak memprioritaskan kebutuhan utama. Bahkan, orang kerap langsung memenuhi kebutuhan tanpa adanya prioritas kebutuhan utama.
“Kalau di ekonomi islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap),” kata Tika, mengutip laman Unair, Kamis (19/3/2026).
“Kesalahannya itu adalah cenderung pada pemenuhan atau pemuasan keinginan. Karena, yang disebut keinginan itu apabila itu dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan itu tidak sebanding dengan benefitnya,” dia menjelaskan.
Untuk itu, Tika pun memberikan beberapa tips agar dapat mengelola keuangannya jelang Lebaran.
Pertama, susun daftar kebutuhan wajib, seperti biaya transportasi mudik, biaya makanan saat lebaran, atau oleh-oleh untuk keluarga. Menurutnyam, jika kamu punya pemasukan tambahan, gunakan sekitar 70 persen untuk kebutuhan lebaran.
Sementara, sisanya bisa disimpan untuk kebutuhan tidak terduga.
Baca Juga: Lonjakan Transaksi Selama Ramadan, BNI Minta Masyarakat Waspada Phishing
“Kalian bisa mulai dengan mencatat kebutuhan lebaran apa saja, lalu pisahkan anggaran kebutuhan lebaran dari rekening utama agar pengeluaran lebih terkontrol,” kata Tika.
Dia juga mengingatkan bahwa makna lebaran bukan soal konsumsi, namun tentang kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, jangan lupa menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu keluarga atau orang lain yang membutuhkan.
“Rezeki yang kita miliki itu kan bukan hanya untuk diri kita sendiri, sebagiannya adalah titipan yang bisa kita gunakan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan. Dengan begitu, perayaan lebaran ini menjadi lebih bermakna dan berharga,” pungkasnya.






